AFTA, Bencana atau Peluang?

Berita heboh yang semakin menusuk para pedagang dan produsen dalam negeri muncul lagi. keringat dingin para pedagang dan produsen local semakin mengucur melihat bayangan perdagangan bebas ASIA yang menyongsong mereka di tahun 2010 nanti. AFTA (ASEAN Free Trade Area), adalah hasil dari kesepakatan negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia serta serta menciptakan pasar regional bagi 500 juta penduduknya. Berawal pada tahun 1992, lalu diberlakukan secara penuh untuk negara-negara ASEAN pada taun 2002, dan kini Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapura dan Thailand secara resmi akan memberlakukan AFTA pada tahun 2010.
Sistem perdagangan ini meniadakan hambatan tarif (bea masuk 0-5%) maupun hambatan non tarif bagi negara-negara anggota ASEAN, melalui skema Common Effective Preferential Tariffs For ASEAN Free Trade Area ( CEPT-AFTA), suatu skema yang digunakan untuk mewujudkan AFTA melalui penurunan tarif hingga menjadi 0-5%, penghapusan pembatasan kwantitatif dan hambatan-hambatan non tarif lainnya.

Dilihat dari sistematika perdagangan yang demikian, maka pasti akan banyak pendapat yang memandang dengan pesimis bahwa dikawatirkan akan terjadi goncangan besar dalam kondisi perdagangan local. Banyak dari pengusaha, baik para pedagang, produsen atau pengusaha local harus siap dengan hempasan ombak persaingan pasar bebas yang lebih besar dari sebelumnya. Yang lebih megejutkan adalah bergabungnya China pada tahun 2010 nanti yang lebih memperparah tingkat kompetisi. padahal tanpa AFTA pun, pedagang dan produsen lokal sudah menghadapi banyak kompetitor dan atmosfir persaingan yang tinggi, belum lagi nanti kalau China benar-benar pergabung dalam AFTA, ada kemungkinan akan banyak sektor-sektor usaha perdagangan baik skala besar maupun kecil yang akan gulung tikar karena ketatnya persaingan.

Selama ini kita mengenal produk-produk China sebagai produk yang sangat murah meriah, meng-global, dan hampir ada disemua kalangan profesi. Meski kebanyakannya adalah produk plagiat, namun harganya yang murah sangat sinkron dengan kebutuhan masyarakat indonesia. Coba bayangkan apa jadinya jika produk-produk yang murah tadi, ternyata akan menjadi lebih murah lagi setelah AFTA resmi diberlakukan, apa jadinya para produsen dan pedagang dalam negeri? yang ada adalah monopoli perdagangan oleh negara lain, semakin menciutnya mental pengusaha local, dan memaksa pergerakan ekonomi local dalam sektor perdagangan untuk menelan mentah-mentah situasi persaingan yang belum bisa terantisipasi.

Namun, apakah benar fenomena datangnya AFTA hanya disimpulkan dengan hipotesa yang demikian? TENTU TIDAK ^^. Coba kita lihat kondisi ini dri sisi yang lain!! Kita siapkan (set) pikiran kita pada kawasan mainset nya para entepreneur sejati (hehehe…). Kita pastikan disini bahwa pada kenyataanya, dari berbagai studi perdagangan dan perhitungan para ahli, INDONESIA masih punya daya saing untuk menghadapi kompetitor sekelas China (yakinlah akan hal itu). Badan tenaga kerja PBB-ILO mencatat, produktifitas kerja Indonesia berada di peringkat ke-59 dunia, sedangkan Cina di posisi ke-31. Masuknya Cina dalam perdagangan bebas ini, harus dilihat dari dua sisi, ancaman juga sebagai peluang. Merujuk kinerja ekonomi tahun 2009, pemerintah memang optimis, laju perekonomian nasional akan mampu menghadapi goncangan ekonomi global. amun, fakta yang menarik adalah ertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2009 mencapai 4,3 sampai 4,4 persen, yang merupakan peringkat ketiga dunia, dan akan meningkat lagi di tahun 2010. Demikian juga dengan inflasi, di mana selama 2009 dapat dikendalikan hingga 3 persen, yang merupakan inflasi terendah dalam 10 tahun terakhir.  oleh karena itu, presiden Susilo Bambang Yudhoyono optimis, tahun 2010 dan di tahun-tahun mendatang, perekonomian Indonesia akan terus mengalami kemajuan, termasuk mencapai target-target pertumbuhan ekonomi.

Makanya, pemberlakuan AFTA tidak seharsnya membuat para pedagang dalam negeri pesimis. Namun dengan menganggapnya sebagai medan persaingan dan peluang besar, jadikanlah AFTA sebagai sarana untuk lebih maju. Membuktikan pada negara lain bahwa Indonesia adalah negara yang mempunyai daya saing kuat dalam sektor perdagangan. Dan potensi yang demikian bukannya tidak mungkin (^^).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: