Mari Kita Kenal ULAMA Kita!!-biografi singkat ulama ahlussunnah

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Beliau adalah Pembaharu Islam (mujadid) pada abad ini. Karya dan jasa-jasa beliau cukup banyak dan sangat membantu umat Islam terutama dalam menghidupkan kembali ilmu Hadits. Beliau telah memurnikan Ajaran islam terutama dari hadits-hadits lemah dan palsu, meneliti derajat hadits.

Nasab (Silsilah Beliau)

Nama beliau adalah Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh al-Albani. Dilahirkan pada tahun 1333 H di kota Ashqodar ibu kota Albania yang lampau. Beliau dibesarkan di tengah keluarga yang tak berpunya, lantaran kecintaan terhadap ilmu dan ahli ilmu. Ayah al Albani yaitu Al Haj Nuh adalah lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari`at di ibukota negara dinasti Utsmaniyah (kini Istambul), yang ketika Raja Ahmad Zagho naik tahta di Albania dan mengubah sistem pemerintahan menjadi pemerintah sekuler, maka Syeikh Nuh amat mengkhawatirkan dirinya dan diri keluarganya. Akhirnya beliau memutuskan untuk berhijrah ke Syam dalam rangka menyelamatkan agamanya dan karena takut terkena fitnah. Beliau sekeluargapun menuju Damaskus.

Setiba di Damaskus, Syeikh al-Albani kecil mulai aktif mempelajari bahasa arab. Beliau masuk sekolah pada madrasah yang dikelola oleh Jum`iyah al-Is`af al-Khairiyah. Beliau terus belajar di sekolah tersebut tersebut hingga kelas terakhir tingkat Ibtida`iyah. Selanjutnya beliau meneruskan belajarnya langsung kepada para Syeikh. Beliau mempelajari al-Qur`an dari ayahnya sampai selesai, disamping itu mempelajari pula sebagian fiqih madzab Hanafi dari ayahnya.

Syeikh al-Albani juga mempelajari keterampilan memperbaiki jam dari ayahnya sampai mahir betul, sehingga beliau menjadi seorang ahli yang mahsyur. Ketrampilan ini kemudian menjadi salah satu mata pencahariannya.

Pada umur 20 tahun, pemuda al-Albani ini mulai mengkonsentrasi diri pada ilmu hadits lantaran terkesan dengan pembahasan-pembahsan yang ada dalam majalah al-Manar, sebuah majalah yang diterbitkan oleh Syeikh Muhammad Rasyid Ridha. Kegiatan pertama di bidang ini ialah menyalin sebuah kitab berjudul al-Mughni `an Hamli al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ishabah min al-Akhbar. Sebuah kitab karya al-Iraqi, berupa takhrij terhadap hadits-hadits yang terdapat pada Ihya` Ulumuddin al-Ghazali. Kegiatan Syeikh al-Albani dalam bidang hadits ini ditentang oleh ayahnya seraya berkomentar. Sesungguhnya ilmu hadits adalah pekerjaan orang-orang pailit (bangkrut).

Namun Syeikh al-Albani justru semakin cinta terhadap dunia hadits. Pada perkembangan berikutnya, Syeikh al-Albani tidak memiliki cukup uang untuk membeli kitab-kitab. Karenanya, beliau memanfaatkan Perpustakaan adh-Dhahiriyah di sana (Damaskus). Di samping juga meminjam buku-buku dari beberapa perpustakaan khusus. Begitulah, hadits menjadi kesibukan rutinnya, sampai-sampai beliau menutup kios reparasi jamnya. Beliau lebih betah berlama-lama dalam perpustakaan adh-Dhahiriyah, sehingga setiap harinya mencapai 12 jam. Tidak pernah istirahat mentelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu sholat tiba. Untuk makannya, seringkali hanya sedikit makanan yang dibawanya ke perpustakaan.

Akhirnya kepala kantor perpustakaan memberikan sebuah ruangan khusus di perpustakaan untuk beliau. Bahkan kemudiaan beliau diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Dengan demikian, beliau menjadi leluasa dan terbiasa datang sebelum yang lainnya datang. Begitu pula pulangnya ketika orang lain pulang pada waktu dhuhur, beliau justru pulang setelah sholat isya. Hal ini dijalaninya sampai bertahun-tahun.

Pengalaman Penjara

Syeikh al-Albani pernah dipenjara dua kali. Kali pertama selama satu bulan dan kali kedua selama enam bulan. Itu tidak lain karena gigihnya beliau berdakwah kepada sunnah dan memerangi bid`ah sehingga orang-orang yang dengki kepadanya menebarkan fitnah.

Beberapa Tugas yang Pernah Diemban

Syeikh al-Albani Beliau pernah mengajar di Jami`ah Islamiyah (Universitas Islam Madinah) selama tiga tahun, sejak tahun 1381-1383 H, mengajar tentang hadits dan ilmu-ilmu hadits. Setelah itu beliau pindah ke Yordania. Pada tahun 1388 H, Departemen Pendidikan meminta kepada Syeikh al-Albani untuk menjadi ketua jurusan Dirasah Islamiyah pada Fakultas Pasca Sarjana di sebuah Perguruan Tinggi di kerajaan Yordania. Tetapi situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkan beliau memenuhi permintaan itu. Pada tahun 1395 H hingga 1398 H beliau kembali ke Madinah untuk bertugas sebagai anggota Majelis Tinggi Jam`iyah Islamiyah di sana. Mandapat penghargaan tertinggi dari kerajaan Saudi Arabia berupa King Faisal Fundation tanggal 14 Dzulkaidah 1419 H.

Beberapa Karya Beliau

Karya-karya beliau amat banyak, diantaranya ada yang sudah dicetak, ada yang masih berupa manuskrip dan ada yang mafqud (hilang), semua berjumlah 218 judul. Beberapa Contoh Karya Beliau yang terkenal adalah :

1. Adabuz-Zifaf fi As-Sunnah al-Muthahharah
2. Al-Ajwibah an-Nafi`ah `ala as`ilah masjid al-Jami`ah
3. Silisilah al-Ahadits ash Shahihah
4. Silisilah al-Ahadits adh-Dha`ifah wal maudhu`ah
5. At-Tawasul wa anwa`uhu
6. Ahkam Al-Jana`iz wabida`uha

Di samping itu, beliau juga memiliki kaset ceramah, kaset-kaset bantahan terhadap berbagai pemikiran sesat dan kaset-kaset berisi jawaban-jawaban tentang pelbagai masalah yang bermanfaat.

Selanjutnya Syeikh al-Albani berwasiat agar perpustakaan pribadinya, baik berupa buku-buku yang sudah dicetak, buku-buku foto copyan, manuskrip-manuskrip (yang ditulis oleh beliau sendiri ataupun orang lain) semuanya diserahkan ke perpustakaan Jami`ah tersebut dalam kaitannya dengan dakwah menuju al-Kitab was Sunnah, sesuai dengan manhaj salafush Shalih (sahabat nabi radhiyallahu anhum), pada saat beliau menjadi pengajar disana.

Wafatnya

Beliau wafat pada hari Jum`at malam Sabtu tanggal 21 Jumada Tsaniyah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yoradania. Rahimallah asy-Syaikh al-Albani rahmatan wasi`ah wa jazahullahu`an al-Islam wal muslimiina khaira wa adkhalahu fi an-Na`im al-Muqim.

Sumber: http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=11

Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz

Penulis: Al Ustadz Ahmad Hamdani Ibnu Muslim

Syaikh Bin Baz, menurut Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, adalah seorang tokoh ahli fiqih yang diperhitungkan di jaman kiwari ini, sebagaimana Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani juga seorang ulama ahlul hadits yang handal masa kini. Untuk mengenal lebih dekat siapa beliau, mari kita simak penuturan beliau mengungkapkan data pribadinya berikut ini.

Syaikh mengatakan, “Nama lengkap saya adalah Abdul ‘Aziz Bin Abdillah Bin Muhammad Bin Abdillah Ali (keluarga) Baz. Saya dilahirkan di kota Riyadh pada bulan Dzulhijah 1330 H. Dulu ketika saya baru memulai belajar agama, saya masih bisa melihat dengan baik. Namun qodarullah pada tahun 1346 H, mata saya terkena infeksi yang membuat rabun. Kemudian lama-kelamaan karena tidak sembuh-sembuh mata saya tidak dapat melihat sama sekali. Musibah ini terjadi pada tahun 1350 Hijriyah. Pada saat itulah saya menjadi seorang tuna netra. Saya ucapkan alhamdulillah atas musibah yang menimpa diri saya ini. Saya memohon kepada-Nya semoga Dia berkenan menganugerahkan bashirah (mata hati) kepada saya di dunia ini dan di akhirat serta balasan yang baik di akhirat seperti yang dijanjikan oleh-Nya melalui nabi Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam atas musibah ini. Saya juga memohon kepadanya keselamatan di dunia dan akhirat.

Mencari ilmu telah saya tempuh semenjak masa anak-anak. Saya hafal Al Qur’anul Karim sebelum mencapai usia baligh. Hafalan itu diujikan di hadapan Syaikh Abdullah Bin Furaij. Setelah itu saya mempelajari ilmu-ilmu syariat dan bahasa Arab melalui bimbingan ulama-ulama kota kelahiran saya sendiri. Para guru yang sempat saya ambil ilmunya adalah:

1. Syaikh Muhammad Bin Abdil Lathif Bin Abdirrahman Bin Hasan Bin Asy Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab, seorang hakim di kota Riyadh.
2. Syaikh Hamid Bin Faris, seorang pejabat wakil urusan Baitul Mal, Riyadh.
3. Syaikh Sa’d, Qadhi negeri Bukhara, seorang ulama Makkah. Saya menimba ilmu tauhid darinya pada tahun 1355 H.
4. Samahatus Syaikh Muhammad Bin Ibrahim Bin Abdul Lathief Alu Syaikh, saya bermuzalamah padanya untuk mempelajari banyak ilmu agama, antara lain: aqidah, fiqih, hadits, nahwu, faraidh (ilmu waris), tafsir, sirah, selama kurang lebih 10 tahun. Mulai 1347 sampai tahun 1357 H.

Semoga Allah membalas jasa-jasa mereka dengan balasan yang mulia dan utama.

Dalam memahami fiqih saya memakai thariqah (mahdzab -red) Ahmad Bin Hanbal [1] rahimahullah. Hal ini saya lakukan bukan semata-mata taklid kepada beliau, akan tetapi yang saya lakukan adalah mengikuti dasar-dasar pemahaman yang beliau tempuh. Adapun dalam menghadapi ikhtilaf ulama, saya memakai metodologi tarjih, kalau dapat ditarjih dengan mengambil dalil yang paling shahih. Demikian pula ketika saya mengeluarkan fatwa, khususnya bila saya temukan silang pendapat di antara para ulama baik yang mencocoki pendapat Imam Ahmad atau tidak. Karena AL HAQ itulah yang pantas diikuti. Allah berfirman (yang artinya -red), “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah dia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul-Nya (As Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (An Nisa:59)”

TUGAS-TUGAS SYAR’I

” Banyak jabatan yang diamanahkan kepada saya yang berkaitan dengan masalah keagamaan. Saya pernah mendapat tugas sebagai:

1. Hakim dalam waktu yang panjang, sekitar 14 tahun. Tugas itu berawal dari bulan Jumadil Akhir tahun 1357 H.
2. Pengajar Ma’had Ilmi Riyadh tahun 1372 H dan dosen ilmu fiqih, tauhid, dan hadits sampai pada tahun 1380 H.
3. Wakil Rektor Universitas Islam Madinah pada tahun 1381-1390 H.
4. Rektor Universitas Islam Madinah pada tahun 1390 H menggantikan rektor sebelumnya yang wafat yaitu Syaikh Muhammad Bin Ibrahim Ali Syaikh. Jabatan ini saya pegang pada tahun 1389 sampai dengan 1395 H.
5. Pada tanggal 13 bulan 10 tahun 1395 saya diangkat menjadi pimpinan umum yang berhubungan dengan penelitian ilmiah, fatwa-fawa, dakwah dan bimbingan keagamaan sampai sekarang. Saya terus memohon kepada Allah pertolongan dan bimbingan pada jalan kebenaran dalam menjalankan tugas-tugas tersebut.

Disamping jabatan-jabatan resmi yang sempat saya pegang sekarang, saya juga aktif di berbagai organisasi keIslaman lain seperti:

1. Anggota Kibarul Ulama di Makkah.
2. Ketua Lajnah Daimah (Komite Tetap) terhadap penelitian dan fatwa dalam masalah keagamaan di dalam lembaga Kibarul Ulama tersebut.
3. Anggota pimpinan Majelis Tinggi Rabithah ‘Alam Islami.
4. Pimpinan Majelis Tinggi untuk masjid-masjid.
5. Pimpinan kumpulan penelitian fiqih Islam di Makkah di bawah naungan organisasi Rabithah ‘Alam Islami.
6. Anggota majelis tinggi di Jami’ah Islamiyah (universitas Islam -red), Madinah.
7. Anggota lembaga tinggi untuk dakwah Islam yang berkedudukan di Makkah.

Mengenai karya tulis, saya telah menulis puluhan karya ilmiah antara lain:

1. Al Faidhul Hilyah fi Mabahits Fardhiyah.
2. At Tahqiq wal Idhah li Katsirin min Masailil Haj wal Umrah Wa Ziarah (Tauhdihul Manasik – ini yang terpenting dan bermanfaat – aku kumpulkan pada tahun 1363 H). Karyaku ini telah dicetak ulang berkali-kali dan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa (termasuk bahasa Indonesia -pent).
3. At Tahdzir minal Bida’ mencakup 4 pembahasan (Hukmul Ihtifal bil Maulid Nabi wa Lailatil Isra’ wa Mi’raj, wa Lailatun Nifshi minas Sya’ban wa Takdzibir Ru’yal Mar’umah min Khadim Al Hijr An Nabawiyah Al Musamma Asy Syaikh Ahmad).
4. Risalah Mujazah fiz Zakat was Shiyam.
5. Al Aqidah As Shahihah wama Yudhadhuha.
6. Wujubul Amal bis Sunnatir Rasul Sholallahu ‘Alaihi Wasallam wa Kufru man Ankaraha.
7. Ad Dakwah Ilallah wa Akhlaqud Da’iyah.
8. Wujubu Tahkim Syar’illah wa Nabdzu ma Khalafahu.
9. Hukmus Sufur wal Hijab wa Nikah As Sighar.
10. Naqdul Qawiy fi Hukmit Tashwir.
11. Al Jawabul Mufid fi Hukmit Tashwir.
12. Asy Syaikh Muhammad Bin Abdil Wahhab (Da’wah wa Siratuhu).
13. Tsalatsu Rasail fis Shalah: Kaifa Sholatun Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, Wujubu Ada’is Shalah fil Jama’ah, Aina Yadha’ul Mushalli Yadaihi hinar Raf’i minar Ruku’.
14. Hukmul Islam fi man Tha’ana fil Qur’an au fi Rasulillah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.
15. Hasyiyah Mufidah ‘Ala Fathil Bari – hanya sampai masalah haji.
16. Risalatul Adilatin Naqliyah wa Hissiyah ‘ala Jaryanis Syamsi wa Sukunil ‘Ardhi wa Amakinis Su’udil Kawakib.
17. Iqamatul Barahin ‘ala Hukmi man Istaghatsa bi Ghairillah au Shaddaqul Kawakib.
18. Al Jihad fi Sabilillah.
19. Fatawa Muta’aliq bi Ahkaml Haj wal Umrah wal Ziarah.
20. Wujubu Luzumis Sunnah wal Hadzr minal Bid’ah.”

Sampai di sini perkataan beliau yang saya (Ustadz Ahmad Hamdani -red) kutip dari buku Fatwa wa Tanbihat wa Nashaih hal 8-13.

AKIDAH DAN MANHAJ DAKWAH

Akidah dan manhaj dakwah Syaikh ini tercermin dari tulisan atau karya-karyanya. Kita lihat misalnya buku Aqidah Shahihah yang menerangkan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, menegakkan tauhid dan membersihkan sekaligus memerangi kesyirikan dan pelakunya. Pembelaannya kepada sunnah dan kebenciannya terhadap kebid’ahan tertuang dalam karya beliau yang ringkas dan padat, berjudul At Tahdzir ‘alal Bida’ (sudah diterjemahkan -pent). Sedangkan perhatian (ihtimam) dan pembelaan beliau terhadap dakwah salafiyah tidak diragukan lagi. Beliaulah yang menfatwakan bahwa firqatun najiyah (golongan yang selamat -red) adalah para salafiyyin yang berpegang dengan kitabullah dan sunnah Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hal suluk (perilaku) dan akhlaq serta aqidah. Beliau tetap gigih memperjuangkan dakwah ini di tengah-tengah rongrongan syubhat para da’i penyeru ke pintu neraka di negerinya khususnya dan luar negeri beliau pada umumnya, hingga al haq nampak dan kebatilan dilumatkan. Agaknya ini adalah bukti kebenaran sabda Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam (yang artinya), “Akan tetap ada pada umatku kelompok yang menampakkan kebenaran (al haq), tidak memudharatkan mereka orang yang mencela atau menyelisihinya”

Foot note:

[1] Mahdzab secara istilah yakni mengikuti istilah-istilah Ahmad Bin Hanbal dalam mempelajari masalah fiqih atau hadits. Bukan Mahdzab syakhsyi yaitu mengambil semua hadits yang diriwayatkannya.

Sumber: SALAFY Edisi XXV/1418 H/1998 M hal 48-49
Judul Asli: “Syaikh Bin Baz Mutjahid dan Ahli Fiqih Jaman Ini”

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i

Beliau adalah Muqbil bin Hadi bin Muqbil bin Qanidah Al-Hamadani Al-Wadi’i Al-Khallaaly dari kabilah Aalu Rasyid dan di timur Sha’dah dari lembah Dammaj. Pada permulaan mencari ilmu, beliau belajar pada sebuah jami’ Al-Hadi dan tak ada seorangpun pada waktu itu yang membantunya dalam thalabul ilmi. Selang beberapa waktu beliau pergi menuju Al-Haramain dan Najd.

Suatu ketika seorang penceramah memberinya nasihat tentang kitab-kitab yang ber-manfaat dan menunjukkannya pada Shahih Bukhari, Bulughul Maram, Riyadlush Shalihin, Fathul Majid dan memberinya satu nuskhah dari Kitab Tauhid. Beliau menekuni dan mempelajari buku-buku tersebut. Beberapa waktu kemudian beliau pulang ke negerinya dan mengingkari setiap apa yang dilihatnya yang menyelisihi tauhid dari penyembelihan yang diperuntukkan selain kepada Allah, membangun kubah di atas kuburan dan berdoa kepada orang-orang yang telah mati.

Ketika berita ini terdengar oleh orang-orang Syi’ah pada waktu itu, mereka mengatakan, “Barang-siapa yang mengubah ajaran agamanya, maka bunuhlah!” Sebagian dari mereka mengadukan kepada kerabat-kerabat Syaikh, “Jika kalian tidak melarangnya, maka kami akan memenjarakannya.” Setelah itu mereka memutuskan untuk memasukkannya kembali ke Jami’ Al-Hadi untuk belajar pada mereka dan menghilangkan syubhat-syubhat yang ada pada Syaikh (menurut anggapan mereka pent). Berkata Syaikh, “Ketika aku melihat kurikulum yang ditetapkan adalah Syi’ah Mu’tazilah maka aku putuskan untuk konsentrasi dalam ilmu nahwu.” Dan tatkala terjadi perubahan politik antara Republik dan Kerajaan (Yaman), beliau meninggalkan negerinya dan pergi ke Najran untuk ber-mulazamah kepada Abul Husain Majduddin Al-Muayyid dan men-dapatkan faedah darinya, terlebih khusus dalam bahasa Arab. Beliau tinggal di sana selama kurang lebih selama dua tahun, kemudian ber-’azzam untuk ber-rihlah (menempuh perjalanan pent) ke negeri Haramain dan Najd dan belajar pada sebuah madrasah tahfizh Al-Qur’an Al-Karim. Kemudian bertekad lagi untuk safar ke Makkah dan beliau menghadiri durus (halaqoh-halaqoh ilmu pent) di antaranya adalah Syaikh Yahya bin Utsman Al-Baqistani dan Syaikh Al-Qadhi Yahya Asywal dan Syaikh Abdurrazzaq Asy-Syahidi Al-Mahwithi. Lalu beliau masuk ke ma’had Al-Haram Al-Makki dan selesai dari tingkatan mutawasith dan tsanawi beliau pindah ke Madinah dan masuk ke Jami’ah Al-Islamiyah pada fakultas da’wah dan ushuluddin. Saat tiba waktu liburan Syaikh merasa takut kehilangan waktunya, sehingga beliau mengikutsertakan dirinya pada fakultas syari’ah untuk menambah ilmu. Karena materi-materinya saling berdekatan dan sebagiannya sama, maka hal itu dianggap sebagai murajaah (pengulangan) atas yang beliau pelajari di fakultas da’wah.

Selesai dari dua fakultas ini, Syaikh berkata, “Aku diberi dua ijazah, namun alhamdulillah aku tidak menghiraukannya, yang terpenting bagiku adalah ilmu.” Setelah selesai dari dua fakultas ini dibukalah di jami’ah untuk tingkatan lanjutan yaitu magister, beliaupun mendaftarkan dirinya dan beliau berhasil dalam ujian penerimaannya yaitu dalam bidang ilmu hadits. Berkata Syaikh, “Setelah ini semua, aku tinggal di perpustakaanku. Hanya beberapa saat berdatanganlah sebagian saudara-saudara dari Mesir, maka aku buka pelajaran-pelajaran dari sebagian kitab-kitab hadits dan kitab-kitab bahasa. Dan masih saja para thalabul ilmi berdatangan dari Mesir, Kuwait, Haramain, Najd, ‘Adn, Hadramaut, Al-Jazair, Libia, Somalia, Belgia dan dari kebanyakan negeri-negeri Islam dan yang lainnya.”

Gunung-gunung dan pasir serta lembah-lembah menjadi saksi bagi Abu Abdirrahman (nama kunyah Syaikh Muqbil pent) dalam penyebaran Sunnah dan kesabarannya dalam menanamkan pada hati manusia serta permusuhannya terhadap bid’ah dengan fadhilah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Guru-guru beliau yang paling masyhur :

1. Abdul Aziz As-Subail
2. Abdullah bin Muhammad bin Humaid
3. Abdul Aziz bin Rasyid An-Najdi
4. Muhammad bin Abdillah Ash-Shoumali
5. Muhammad Al-Amin Al-Mishri
6. Hammad bin Muhammad Al-Anshori
7. Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz (beliau pernah hadir mengikuti sebagian halaqoh ilmunya di Haramun Madani yaitu pada kitab Shahih Muslim)
8. Muhammad Nashiruddin Al-Albani (beliau mengambil faidah darinya pada pertemuan khusus para thalabatul ilmi dan pada kesempatan-kesempatan yang lainnya).

Sebagian dari karya-karya Syaikh :

1. Ash-Shahih Al-Musnad min Asbabin Nuzul
2. Al-Ilzamaat wat-Tatabbu’
3. Asy-Syafa’at
4. Ash-Shahih Al-Musnad mimma laisa fish-Shahihaini
5. Ash-Shahih Al-Musnad min Dalaailin Nubuwwati
6. Al-Jami’u Ash-Shahih fil-Qadari
7. Al-jami’u Ash-Shahih mimma laisa fish- Shahihaini (tersusun sesuai dengan bab-bab fiqhiyyah)
8. Tatabbu’u Awhamil Hakim fi al-Mustadrak al-lati lam yunabbih ‘alaiha Adz-Dzahabi ma’a Tarajimi lir-ruwati alladzina laisu min rijali Tahdzibi At-Tahdzib
9. As-Suyufu Al-Bathirat li ilhadi Asy-Syuyuiyyah Al-Kafirah
10. Ijabatu As-Saili ‘an ahammi Al-Masaili
11. Dan beliau juga mempunyai sekitar 33 karya yang lain.

Beberapa murid-murid Syaikh yang menonjol, murid-murid beliau sangat banyak sekali tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah, kami sebutkan beberapa di antaranya yang menonjol dari kalangan muallifin (penulis buku), para dai-dai, dan selain mereka :

1. Ahmad bin Ibrahim Abul Ainain Al-Mishri
2. Ahmad bin Sa’id Al-Asyhabi Al-Hajari Abul Mundzir
3. Usamah bin Abdul Latif Al-Kushi, penulis kitab Al-Adzan
4. Abdullah bin Utsman Ad-Damari, beliau terkenal sebagai pemberi ceramah kalangan Ahlussunnah di Yaman
5. Abdul Aziz bin Yahya Al-Bura’i
6. Abdul Mushawwir bin Muhammad Al- Ba’dani
7. Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wushobi Abdali
8. Muhammad bin Abdillah Al-Imam Abu Nashr Ar-Raimi
9. Musthofa bin Ismail Abul Hasan As- Sulaimani Al-Maghribi
10. Musthofa ibnul Adawi Al-Mishry
11. Yahya bin Ali Al-Muri
12. Abdur Raqib bin Ali Al-Ibbi
13. Qasim bin Ahmad Abu Abdillah At-Taizi
14. Jamil bin Ali Asy-Syaja’ Ash-Shobari
15. Ali bin Abdillah Abul Hasan Asy-Syaibani
16. Auf bin Abdillah Al-Bakkari Abu Harun
17. Utsman bin Abdillah Al-Utmi
18. Ummu Abdillah binti Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, penulis kitab Ash-Shahihul Musnad min Asy-Syamaili Al-Muhammadiyyah dan yang lainnya.

Diringkas oleh Abu Malik Adnan Al-Maqthori
Dinukil dari “Silsilah Al Muntaqo min Fatawa
As Syaikh Al Allamah Muqbil bin Hadi AL Wadi’i”
Judul Indonesia “Risalah Ramadan untuk Saudaraku
Kumpulan 44 Fatwa Syaikh Muqbil bin Hadi”
Penerbit Pustaka At Tsiqaat Press

Dicopy dari: http://ghuroba.blogsome.com/

Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin

Oleh: Al Ustadz Ahmad Hamdani

Nasab (Silsilah Beliau)

Beliau bernama Abdillah Muhammad Bin Shalih Bin Muhammad Bin Utsaimin Al-Wahib At-Tamimi. Dilahirkan di kota Unaizah tanggal 27 Ramadhan 1347 Hijriyah.

Pertumbuhan Beliau

Beliau belajar membaca Al-Qur’an kepada kakeknya dari ibunya yaitu Abdurrahman Bin Sulaiman Ali Damigh Rahimahullah, hingga beliau hafal. Sesudah itu beliau mulai mencari ilmu dan belajar khat (ilmu tulis menulis), ilmu hitung dan beberapa bidang ilmu sastra.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullah menugaskan kepada 2 orang muridnya untuk mengajar murid-muridnya yang kecil. Dua murid tersebut adalah Syaikh Ali Ash-Shalihin dan Syaikh Muhammad Bin Abdil Aziz Al-Muthawwi’ Rahimahullah. Kepada yang terakhir ini beliau (syaikh Utsaimin) mempelajari kitab Mukhtasar Al Aqidah Al Wasithiyah dan Minhaju Salikin fil Fiqh karya Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dan Al- Ajurrumiyah serta Alfiyyah.

Disamping itu, beliau belajar ilmu faraidh (waris) dan fiqh kepada Syaikh Abdurrahman Bin Ali Bin ‘Audan. Sedangkan kepada syaikh (guru) utama beliau yang pertama yaitu Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’di, beliau sempat mengkaji masalah tauhid, tafsir, hadits, fiqh, ustsul fiqh, faraidh, musthalahul hadits, nahwu dan sharaf.

Belia mempunyai kedudukan penting di sisinya Syaikhnya Rahimahullah. Ketika ayah beliau pindah ke Riyadh, di usia pertumbuhan beliau, beliau ingin ikut bersama ayahnya. Oleh karena itu Syaikh Abdurrahman As-Sa’di mengirim surat kepada beliau: “Hal ini tidak mungkin, kami menginginkan Muhammad tetap tinggal di sini agar dapat bisa mengambil faidah (ilmu).”

Beliau (Syaikh Utsaimin) berkata, “Sesungguhnya aku merasa terkesan dengan beliau (Syaikh Abdurrahman Rahimahullah) dalam banyak cara beliau mengajar, menjelaskan ilmu, dan pendekatan kepada para pelajar dengan contoh-contoh serta makna-makna. Demikian pula aku terkesan dengan akhlak beliau yang agung dan utama sesuai dengan kadar ilmu dan ibadahnya. Beliau senang bercanda dengan anak-anak kecil dan bersikap ramah kepada orang-orang besar. Beliau adalah orang yang paling baik akhlaknya yang pernah aku lihat.”

Beliau belajar kepada Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz -sebagai syaikh utama kedua bagi beliau- kitab Shahih Bukhari dan sebagian risalah-risalah Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah serta beberapa kitab-kitab fiqh.

Beliau berkata, “Aku terkesan terhadap syaikh Abdul Aziz Bin Baz Hafidhahullah karena perhatian beliau terhadap hadits dansaya juga terkesan dengan akhlak beliau karena sikap terbuka beliau dengan manusia.”

Pada tahun 1371 H, beliau duduk untuk mengajar di masjid Jami’. Ketika dibukanya ma’had-ma’had al ilmiyyah di Riyadh, beliau mendaftarkan diri di sana pada tahun 1372 H. Berkata Syaikh Utsaimin Hafidhahullah, “Saya masuk di lembaga pendidikan tersebut untuk tahun kedua seterlah berkonsultasi dengan Syaikh Ali Ash-Shalihin dan sesudah meminta ijin kepada Syaikh Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullah. Ketika itu ma’had al ilmiyyah dibagi menjadi 2 bagian, umum dan khusus. Saya berada pada bidang yang khusus. Pada waktu itu bagi mereka yang ingin “meloncat” – demikian kata mereka- ia dapat mempelajari tingkat berikutnya pada masa libur dan kemudian diujikan pada awal tahun ajaran kedua. Maka jika ia lulus, ia dapat naik ke pelajaran tingkat lebih tinggi setelah itu. Dengan cara ini saya dapat meringkas waktu.”

Sesudah 2 tahun, beliau lulus dan diangkat menjadi guru di ma’had Unaizah Al ‘Ilmi sambil meneruskan studi beliau secara intishab (Semacam Universitas Terbuka -red) pada fakultas syari’ah serta terus menuntut ilmu dengan bimbingan Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’di.

Ketika Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’di wafat, beliau menggantikan sebagai imam masjid jami’ di Unaizah dan mengajar di perpustakaan nasional Unaizah disamping tetap mengajar di ma’had Al Ilmi. Kemudian beliau pindah mengajar di fakultas syari’ah dan ushuludin cabang universitas Al Imam Muhammad Bin Su’ud Al Islamiyah di Qasim. Beliau juga termasuk anggota Haiatul Kibarul Ulama di Kerajaan Arab Saudi. Syaikh Hafidhahullah mempunyai banyak kegiatan dakwah kepada Allah serta memberikan pengarahan kepada para Da’i di setiap tempat. Jasa beliau sangat besar dalam masalah ini.

Perlu diketahui pula bahwa Syaikh Muhammad Bin Ibrahim Rahimahullah telah menawarkan bahkan meminta berulang kali kepada syaikh Utsaimin untuk menduduki jabatan Qadhi (hakim), bahkan telah mengeluarkan surat pengangkatan sebagai ketua pengadilan agama di Al Ihsa, namun beliau menolak secara halus. Setelah dilakukan pendekatan pribadi, Syaikh Muhammad Bin Ibrahim pun mengabulkannya untuk menarik dirinya (Syaikh Utsaimin -red) dari jabatan tersebut.

Karya-karya Beliau

Buku-buku yag telah ditulis oleh Syaikh Utsaimin diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Talkhis Al Hamawiyah, selesai pada tanggal 8 Dzulhijah 1380 H.
2. Tafsir Ayat Al Ahkam (belum selesai).
3. Syarh Umdatul Ahkam (belum selesai).
4. Musthalah Hadits.
5. Al Ushul min Ilmil Ushul.
6. Risalah fil Wudhu wal Ghusl wash Shalah.
7. Risalah fil Kufri Tarikis Shalah.
8. Majalisu Ar Ramadhan.
9. Al Udhiyah wa Az Zakah.
10. Al Manhaj li Muridil Hajj wal Umrah.
11. Tashil Al Faraidh.
12. Syarh Lum’atul I’tiqad.
13. Syarh Al Aqidah Al Wasithiyah.
14. Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
15. Al Qowaidul Mustla fi Siftillah wa Asma’ihil Husna.
16. Risalah fi Annath Thalaq Ats Tsalats Wahidah Walau Bikalimatin (belum dicetak).
17. Takhrij Ahadits Ar Raudh Al Murbi’ (belum dicetak).
18. Risalah Al Hijab.
19. Risalah fi Ash Shalah wa Ath Thaharah li Ahlil A’dzar.
20. Risalah fi Mawaqit Ash Shalah.
21. Risalah fi Sujud As Sahwi
22. Risalah fi Aqsamil Mudayanah.
23. Risalah fi Wujubi Zakatil Huliyyi.
24. Risalah fi Ahkamil Mayyit wa Ghuslihi (belum dicetak).
25. Tafsir Ayatil Kursi.
26. Nailul Arab min Qawaid Ibnu Rajab (belum dicetak).
27. Ushul wa Qowa’id Nudhima ‘Alal Bahr Ar Rajaz (belum dicetak).
28. Ad Diya’ Allami’ Minal Hithab Al Jawami’.
29. Al Fatawaa An Nisaa’iyyah
30. Zad Ad Da’iyah ilallah Azza wa Jalla.
31. Fatawa Al Hajj.
32. Al Majmu Al Kabir Min Al Fatawa.
33. Huquq Da’at Ilaihal Fithrah wa Qarraratha Asy Syar’iyah.
34. Al Khilaf Bainal Ulama, Asbabuhu wa Muaqifuna Minhu.
35. Min Musykilat Asy Sayabab.
36. Risalah fil Al Mash ‘alal Khuffain.
37. Risalah fi Qashri Ash Shalah lil Mubtaisin.
38. Ushul At Tafsir.
39. Risalah Fi Ad Dima’ Ath Tabiiyah.
40. As’illah Muhimmah.
41. Al Ibtida’ fi Kamali Asy Syar’i wa Khtharil Ibtida’.
42. Izalat As Sitar ‘Anil Jawab Al Mukhtar li Hidayatil Muhtar.

Dan masih banyak karya-karya beliau hafidahullah ta’ala yang lain. Wallahu ‘alam.

Sumber: SALAFY Edisi XIII/Sya’ban-Ramadhan/1417/1997
Judul Asli: “Tokoh Ahlus Sunnah dari Unaizah”

Wafat Beliau (keterangan tambahan)

Sekarang beliau telah meninggal dunia. Beliau meninggal pada hari Rabu 15 Syawal 1421 Hijriyah bertepatan dengan 10 Januari 2001 dalam usia yang ke 74. Semoga Allah merahmati beliau dan memberikan balasan yang setimpal kepada beliau atas jasa-jasa beliau kepada Islam dan Muslimin.

Sumber keterangan tambahan dinukil dari catatan kaki kitab Syarah Tsalasatil Ushul
edisi Indonesia “Penjelasan 3 Landasan Pokok yang Wajib Diketahui Setiap Muslim”
Penerbit Maktabah Al Ghuroba.

Dicopy dari: http://ghuroba.blogsome.com/2007/06/17/syaikh-muhammad-bin-shalih-al-utsaimin/

Fadhilatusyaikh Ali Hasan Al-Halabi

Beliau adalah Ali bin Hasan bin Ali bin Abdulhamid, Abul Harits al-Halabi, berasal dari Palestina, adapun tempat hijrahnya adalah Yordania. Beliau dilahirkan di kota az-Zarqâ’ Yordania pada tanggal 29 Jumadil Ula tahun 1380 H. Kepada Syaikh Al-Albani beliau mempelajari kitab Isykalat al-Ba’its al-Hatsits dan beberapa kitab lainnya. Diantara guru beliau yang lainnya adalah: Syaikh Abdulwadud az-Zarori, Syaikh Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Syaikh Badi’ud Din as-Sindi, Syaikh Muhibbullah ar-Rasyidi, Syaikh ‘Atha’ullah Hanif al-Fujiyani, Syaikh Hammad al-Anshari dan lainnya. Karya tulis beliau antara lain: Ilmu Ushul al-Bida’, Dirasat Ilmiyyah fî Shahih Muslim, Ru’yah Waqi’iyyah fî al-Manhaj ad-Da’awiyyah, An-Nukat ‘ala Nuz-hah an-Nazhor, Ahkam asy-Syita` fî as-Sunnah al-Muthahharoh, Ad-Da’wah ila Allah baina at-Tajammu’ al-Hizbi wa at-Ta’awun asy-Syar’i, dan lainnya.

Syaikh ‘Azami al-Jawabirah di dalam “Madza yanqimuna min al-Imam al-Albani” (hal. 14), mengatakan :

ولقد سألت أستاذنا الشيخ ناصراً ما رأيك في مخالفة أبي رحيم للشيخ علي الحلبي؟، … فقال شيخنا -رحمه الله- بالحرف الواحد -والله على ما أقولُ شهيد- الأخُ عليّ يعدل ألف واحدٍ مثل أبي رحيم

“Saya telah bertanya kepada ustadz kami, Syaikh Nashir (Al-Albani), apa pandangan Anda mengenai perselisihan Abu Ruhayyim terhadap Syaikh ‘Ali al-Halabi?. Guru kami rahimahullahu menjawab dengan ucapan yang tegas : Demi Alloh yang menjadi saksi atas perkataanku, saudara ‘Aliî itu sepadan dengan seribu satu orang semisal Abu Ruhayyim.”

Syaikh ‘Utsaimin berkata :

سلو ذلك البحر

“Tanyakan pada samudera (ilmu) itu” (sembari menunjuk kepada Syaikh ‘Ali al-Halabi).

Syaikh al-‘Abbad berkata :

عليكم بالشيخ علي حسن

“Hendaklah kalian (mengambil ilmu) kepada Syaikh ‘Ali Hasan!”

Al-Muhadits Hammad al-Anshori mengatakan: “Saya berfirasat bahwa ‘Ali Hasan ‘Abdul Hamid akan menjadi khalifah (pengganti) Syaikh Nashiruddin al-Albani”.

Syaikh Shalih Al-Fauzan

Beliau adalah DR. Shalih bin Fauzan bin Abdillah dari keluarga Al Fauzan. Beliau lahir tahun 1345 H/1933 M. Beliau belajar Al Quran, dasar membaca dan menulis di bawah asuhan Syaikh Hammud bin Sulaiman Ath Thallal. Kemudian beliau meneruskan pendidikannya di beberapa madrasah sehingga masuk ke Univeritas Imam Muhammad Ibnu Su’ud Riyadh.

Beliau juga menjadi anggota Lajnah Daimah lil Buhuts wal Ifta’ (Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa), anggota Haiah Kibaril Ulama’ dan Komite Fiqh Rabithah Alam Islami di Mekkah, serta anggota Komite Pengawas Du’at Haji sekaligus mengepalai keanggotaan Lajnah Daimah lil buhuts wal ifta’. Selain itu, beliau juga seorang Imam, Khatib dan Pengajar di Masjid Pangeran Mut’ib bin Abdil Aziz di Al Malzar. Beliau juga berperan aktif di dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan di program radio ‘Nuurun ‘ala Darb’ dan memberikan kontribusi terhadap penerbitan sejumlah Riset/Penelitian Islami di Lembaga Riset, Studi, Tesis dan Fatwa Islami, yang kemudian diperiksa dan diterbitkan. Syaikh yang mulia juga berperan dalam mengawasi sejumlah Tesis Magister dan Disertasi Doktoral.

Diantara guru-guru beliau adalah:

  1. Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Bazz
  2. Samahatus Syaikh Abdullah bin Humaid
  3. Samahatus Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithy
  4. Samahatus Syaikh Abdurrazaq Afifi
  5. Fadhilatus Syaikh Shalih bin Abdurrahman as-Sukayti
  6. Fadhilatus Syaikh Shalih bin Ibrahim al-Bulayhi
  7. Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Subayyil
  8. Fadhilatus Syaikh Abdullah bin Shalih al-Khulaifi
  9. Fadhilatus Syaikh Ibrahim bin ‘Ubaid al-Abdul Muhsin
  10. Fadhilatus Syaikh Hammud bin Aqlaa`
  11. Fadhilatus Syaikh Shalih bin Ali an-Naashir

Beliau juga belajar di bawah bimbingan sejumlah ulama Universitas Al Azhar Mesir yang memiliki takhoshus (spesialisasi) di bidang Hadits, Tafsir dan Bahasa Arab.

Karangan beliau sangat banyak, di antaranya adalah Syarh Aqidah al-Wasithiyah, Al Irsyad ila Shahihil I’tiqaad (Bimbingan kepada Akidah yang benar), Al Mulakhash al-Fiqhi (Fikih Ringkas), Makanan dan Hukum-Hukum berkenaan tentang Penyembelihan dan Berburu yang merupakan disertasi Doktoral beliau, At Tahqiiqat Al Mardhiyah dalam masalah waris yang merupakan Tesis Magister beliau. Termasuk juga buku tentang Mukminah dan bantahan buku Yusuf al-Qordhawi “Al-Halal Wa Al-Haram”.

Syaikh Abu Ishaq Al Huwainy

Beliau adalah Hijazi Muhammad Syarif, lebih dikenal dengan Abu Ishaq Al-Huwainy. Beliau dilahirkan pada tahun 1375 H. Beliau mulai menuntut ilmu saat berusia 11 tahun dengan menghadiri pengajian-pengajian Syaikh Muhammad Najib al-Muthi’i tentang fiqih mazhab Imam asy-Syafi’i. Beliau biasa menghabiskan waktu yang lama di perpustakaan al-Mushthafa dalam rangka menuntut ilmu secara bersungguh-sungguh di siang hari, sementara di malam hari bekerja untuk menyambung hidup. Beliau kemudian pergi ke Jordan untuk menuntut ilmu kepada Syaikh al-Albani rahimahullah, sehingga terbilang murid-murid pertamanya. Syaikh al-Albani sempat memuji beliau saat ditanya siapa orang yang menggantikannya dalam manhaj ilmiah. Setelah menyebutkan Syaikh Muqbil bin Hadi, beliau kemudian menyebutkan nama Syaikh al-Huwaini. Dalam riwayat lain, beliau ditanya, siapa diantara dua orang yang unggul dalam ilmu hadits, Syaikh Al-Albani berkata, “Ali Hasan Al-Halabi dan Abu Ishaq Al-Huwainy”.

Karya-Karya Tulis: Takhrij Tafsir bin Katsir, ats-Tsamr ad-Dani Fi adz-Dzabb ‘An al-Albani, Tahqiq ad-Dibaj Syarh Shahih Muslim karya as-Suyuthi, Badzl al-Ihsan Bi Takhrij Sunan an-Nasa`i, Abi ‘Abdirrahman, Tahqiq an-Nasikh Wa al-Mansukh karya Ibn Syahin, Masis al-Hajah Ila Takhrij Sunan Ibn Majah, Ithaf an-Naqim Bi Wahm adz-Dzahabi Wa al-Hakim dan lainnya.

Shaikh Abu Hatim Usamah Al-Qusy

Beliau adalah Usamah Ibn ‘Abdil Latif Ibn Mahmud Al-Qusy Al-Hajaji, beliau lahir pada hari Arofah tahun 1373 H (1954) di Mesir. Diantara guru beliau adalah Syaikh Al-Muhadits Al-Musnad Badi’udin Ar-Rashidi As-Sindi, beliau bertemu dengannya di Masjidil Harom. Diantara guru ra bertemu dengannya di masjidil Harom.54)beliau yang lain: Syaikh Muqbil al-Wadi’i, belajar kepadanya di Haramain dan Yaman, Syaikh Abdullah Ad-Duwaish dan lainnya.

Beliau bertemu pula dengan Syaikh Al-Albani, Syaikh Ibn Bazz, Syaikh Ibn Utsaimin, Syaikh Shalih Al-Abud dan lainnya.

Diantara karya beliau adalah Kitabu Adzan.

Fadhilatusyaikh Masyhur bin Hasan alu-Salman

Beliau adalah Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Mahmud Alu Salman. Beliau dilahirkan di kota Palestina tahun 1380 H (1960 M), dan tumbuh dalam keluarga yang taat dan penghafal al-Qur’an. Beliau beserta keluarga hijrah ke Yordania tahun (1387 H/1967 M) setelah penyerbuan Yahudi (semoga laknat Allah menimpa mereka) dan menetap di kota Amman. Di kota ini beliau menamatkan sekolahnya, lalu beliau melanjutkan jenjang kuliah pada tahun 1400 H di fakultas Ushul Fikih. Selain kepada Syaikh Al-Albani beliau berguru pula kepada Syaikh Musthofa az-Zarqa rahimahullah, seorang ulama terkenal di Syam.

Karya tulisan beliau sangat banyak dan unik, lagi sangat bermanfaat, yang berjumlah kurang lebih 101 buku, berupa karya tulis, dan takhrij dan tahqiq atas kitab-kitab bermanfaat. Diantaranya : Nasihah Zahabiyah ila Al-Jama’at Al-Islamiyah Fatawa Fi Attaah wal Bai’ah Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, Kutubun Hadzdzara minha al-Ulama, Al-Qaul Al-Mubin fi Akhthaa Al-Mushalin, Kuratul Qadam Bainal Masalih wal Mafasid ash-Shar’iyah, Inayatun Nisa bil Haditsin Nabawi, Alhadits Muntahabah Min Maghazi Musa Ibn Uqbah, Ahkamul Hajr Fi Kitab Was Sunnah dan lain-lain

Syaikh al-Albani banyak memuji beliau, seperti dalam Silsilah As-Shahihah (1/903), syaikh al-Albani berkata : “Aku mengambil faedah ini semua dari tahqiq (penelitian) yang dilakukan al-Akh al-Fadhil Masyhur Hasan pada kitab “al-Khilafiyat”.

Syaikh Dr. Muhammad Ibn Musa Aali Nasr

Beliau adalah asy-Syaikh, Doktor, Qori’, as-Salafi : Abu Anas Muhammad bin Musa bin Hasan aali Nasr. Nasab beliau sampai kepada seorang Shahabat yang agung, `Auf bin Malik ats-Tsaqofi an-Nasri dari Tsaqif. Beliau dilahirkan di perkemahan Balaathoh di Palestina pada tahun 1374 H (1954 M). Dan memulai sekolah ibtida`iyyah-nya di kota Jericho, Palestina; I`dadiyyah di Ghowr, Yordania; dan Tsanawiyyah di Zarqa` Yordania. Kemudian beliau menuntut ilmu ke berbagai Univeristas Islam di Madinah, Pakistan dan Sudan. Beliau juga belajar kepada beberapa Masyaikh terkenal seperti: Syaikh Atho’ullah Hanif, Syaikh Badi’udin As-Sindi dan lainnya.

Syaikh al-Albani memuji beliau dan biasa mendahulukannya sebagai imam di rumahnya atau ketika safar. Dan kadang syaikh al-Albani berkata : “Bersama kami imam kami”. Dan asy-Syaikh mengirim kepada Syaikh Muhammad Musa para penuntut ilmu untuk belajar qiro’ah dari beliau.

Fadhilatusyaikh Dr. Basim bin Faishal Al-Jawabirah

Beliau adalah Basim bin Faishal bin Ahmad Al-Jawabirah. Syaikh Basim lahir tahun 1954, meneruskan kuliah di Universitas Islam Madinah sampai mendapat gelar Doktornya disana sekitar tahun 1404 H, dan sempat mengajar di Universitas Muhammad bin Sa’ud dan Universitas Yordania dalam Ilmu hadits. Diantara tulisan beliau: Maruwiyat Al-La’in fi As-Sunnah, Tafrikh Al-Karibbi Fadhail Syahid, Al-Maruwiyat Al-Waradah fi Al-Khalaf billah wa Ghairah, dan lainnya.

Al-Muhadits Tsana’ullah Al-Madani

Beliau adalah Al-Muhadits Abu An-Nashr Tsana’ullah Al-Madani bin ‘Isa Khan bin Ismail Khan, lahir di Pakistan tahun 1940 M. Beliau kemudian menghafal Al-Qur’an, dan belajar hadits di Jami’ah Ahlu Hadits di Lahore. Kemudian beliau belajar lebih dalam lagi di Jami’ah Islamiyah di Madinah sekitar tahun 1963, beliau bertemu (berguru) dengan Masyaikh Kibar diantaranya: Al-Allamah Al-Faqih Abdullah Al-Amritsari, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh, Syaikh Muhammad Amin As-Shintqithi, Syaikh Taqiyuddin Al-Hilali, Syaikh Abdul Aziz bin Bazz, Syaikh Al-Muhadits Muhammad Nasruddin Al-Albani, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, Syaikh Hammad bin Muhammad Al-Anshori, Syaikh Abdul Qadir Syaibah Al-Hamad, Syaikh Athiyah Muhammad Salim, Syaikh Mukhtar Ash-Shinqithi, Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Syaikh Abdul Ghafar Hasan dan lainnya.

Beliau mengajar dibeberapa Jamiyah di Pakistan sebagai Syaikh Hadits. Oleh sebab itu banyak sekali orang yang kemudian meriwayatkan (baca: mendapat ijazah hadits) dari beliau, walhamdulillah.

Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad

Beliau adalah al-Allamah al-Muhaddits asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hammad al-’Abbad al-Badr. Beliau lahir di ‘Zulfa’ sekitar 300 km dari utara Riyadh, pada tahun 1353 H. Beliau adalah salah seorang pengajar di Masjid Nabawi yang mengajarkan kitab-kitab hadits seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan Ashabus sunan. Beliau pernah menjabat sebagai wakil mudir (rektor) Universitas Islam Madinah yang waktu itu rektornya adalah al-Imam Abdul Aziz bin Bazz -rahimahullahu-.

Diantara guru-guru beliau adalah : Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu syaikh, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Ghaits, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz, Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi, Syaikh Abdurrahman al-Afriqi, Syaikh Abdur Razaq Afifi, asy-Syaikh Umar Falatah dan lainnya.

Diantara murid beliau adalah: Syaikh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin al-Abbad (putra beliau), Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, Syaikh Ubaid al-Jabiri, Syaikh Abdul Malik Ramadhani al-Jazairi, Syaikh Sulaiman dan Ibrahim ar-Ruhaili dan lainnya.

Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi

Beliau adalah Ahli Hadits yang juhud, Jabir bin Musa bin Abdul Qadir bin Jabir Abu Bakar Al-Jazairi, lahir di Al-Jazair tahun 1342 H/ 1921 M, dinegerinya itu beliau menghapal Al-Qur’an dan beberapa matan kitab, ilmu lughoh dan fiqh Maliki kemudian beliau melanjutkan pelajarannya ke kota lainnya sampai kemudian belajar di Madinah di Masjid Nabawi dan Mekkah sehingga mendapat pengakuan (ijazah) dari para Masyaikh disana. Diantara gurunya dinegerinya yaitu Syaikh Nu’aim An-Nu’aimi, Syaikh Isa Mu’tauqi, dan Syaikh Thoyib Al-Uqbi, sedangkan di Madinah adalah : Syaikh Umar Bari, Syaikh Muhammad Al-Hafizh, Syaikh Muhammad Khoyal dan selainnya.

Beliau sempat pula mengajar di Darul Hadits Madinah dan di Jamiyah Al-Islamiyah,

Syaikh Muhammad Ismail Miqdam

Beliau adalah Dai besar Mesir dan sekitarnya, penyeru dakwah tauhid, Muhammad bin Ahmad bin Ismail bin Mushtofa bin Al-Miqdam. Lahir tahun 1371 H (1952 M) di Mesir.

Diantara guru beliau:

Dalam Ilmu-ilmu Al-Qur’an: Syaikh Muhammad Abdul Halim Abdullah, Syaikh Muhammad Farid An-Nu’man, Syaikh Usamah Abdul Wahab, dan Syaikhah Umu Sa’ad.

Ijazah umum (hadits) : Syaikh Al-Muhadits Badi’udin Syah Ar-Rasyidi As-Sindi, Syaikh Muhammad Al-Hasan Ad-Dadu Asy-Syinqithi dan Syaikh Abdullah bin Shalih Al-Ubaid,

Guru beliau juga sebagian besar Masyaikh Anshor Sunnah Al-Muhammadiyah seperti Syaikh Muhammad Sahnun, Syaikh Syahin Kasyaf Abu Ras, Syaikh Abdul Aziz Rasyid dan lainnya. Juga ulama Al-Azhar seperti : Syaikh Ismail Hamdi, Syaikh Mahmud Ied, Syaikh Ahmad Al-Mahalawi, Syaikh Sayyid Ash-Shawi dan lainnya.

Beliau juga sering duduk bersama Syaikh-syaikh besar lainnya, seperti Syaikh Abdurrazaq Afifi, Syaikh Abdullah Humaid, Syaikh Abdul Aziz bin Bazz, Syaikh Al-Albani dan lainnya.

Tulisan dan rekaman-rekaman beliau dikenal diantara ahlus sunnah, walhamdulillah.

Syaikh Muhammad Abdurrahman Al-Maghrowi

Beliau adalah Muhammad bin ‘Abdir Rahman al-Maghrawi, seorang ulama maghrib yang terkenal dan pendiri perkumpulan yang disebut Jam’iyyah ad-Da’wah Ilal-Qur’an was-Sunnah bil-Maghrib. Beliau lahir tahun 1367 H (1948 M) di Maroko.

Diantara guru beliau adalah : Syaikh Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Taqiyudin Al-Hilali, Syaikh Muhammad Amin Ash-Shintiqi, Syaikh ‘Abdul-’Azîz bin Bâz, Syaikh ‘Abdul-Muhsin al-’Abbad, Syaikh ‘Abdullah al-Ghunaiman, Syaikh Hammad al-Ansari, Syaikh Abu Bakr al-Jaza’iri dan lainnya.

Diantara tulisannya adalah Mufassirun Bain at-Ta’wîl wal-Ithbat fi Ayat as-Sifat, al-’Aqidah as-Salafiyyah fî Masiratiha at-Tarikhiyyah wa Qudratiha ‘ala Muwajahah at-Tahaddiyat dan lainnya.

Syaikh Muhammad Ied Al-Abbas

Beliau adalah Syaikh Al-Alim Muhammad Ied bin Jadallah Al-Abbasi, lahir tahun 1357 H di negeri Syam. Setelah menghapal Al-Qur’an, beliau pergi belajar kepada Syaikh Mula Ramdan Al-Buthi (Bapak Muhammad Sa’id Ramdan Al-Buthi), Dan Mufti Suriah Ahmad Kaftaro dan lainnya. Kemudian ustadz Khoeruddin Al-Wanili menunjukinya kepada Syaikh Al-Muhadits Al-Albani rahimahullahu. Syaikh Al-Albani adalah seorang yang membuat Syaikh Al-Abbasi takjub akan ilmunya, tahqiqnya dan manhajnya yang lurus, kemudian kepadanya beliau berguru dan mengenal sunnah shahihah.

Diantara tulisan beliau yang terkenal: Bid’ah Ta’ashub Mazhabi, Nashihati li Jama’at wal Ahzab Al-Islamiyah, Haqiqah Tawasul wa Ahkamuhu dan lainnya.

Syaikh Dr. ‘Ashim Al-Quryuti

Beliau adalah ‘Ashim bin Abdullah bin Ibrahim bin Khalil bin Mushtofa Alu Ma’mar Al-Quryuti, penulis yang handal lagi bermanfaat. Beliau lahir tahun 1374 H (1954 M) di Zarqa Yordania. Saat ini beliau menjadi dosen di Universitas Muhammad ibn Sa’ud di Riyadh.

Guru beliau sangat banyak, dan nama beliau dikenal oleh para masyaikh, diantaranya adalah : Syaikh Quro Al-Allamah Al-Muhaqiq Abdul Fatah Al-Qadhi, Syaikh Al-Faqih Al-Muhadits Nasiruddin Al-Albani, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Bazz, Syaikh Muhammad Amin Al-Mishri, dan Syaikh Al-Muhadits Abdul Muhsin Al-Abbad. kh Quro Al-Allamah Al-Muhaqiq Abdul Fatah Al-Qadhi, Syaikh Al-Faqih Al-MUhadits

Diantara guru beliau juga : Syaikh Al-Musnad Muhammad Adzim bin Fadhluddin Al-Jandalwi, (syaikh hadits di jamiyah Al-Mahmudiyah Pakistan), Syaikh Muhammad Athoullah Hanif, Syaikh Ubaidullah Ar-Rahmani, Syaikh Syah Badiuddin Ar-Rasyidi, Syaikh Hammad Al-Anshori, Syaikh Umar Falatah, Syaikh Abdul Ghofar Hasan, Syaikh Muhammad Asy-Syadzali bin Muhammad Shodiq An-Naifur At-Tunisi, Syaikh Muhammad bin Abdul Hadi Al-ManuniAl-Maghribi, Syaikh Muhammad Al-Hafizh bin Musa Hamid, Syaikh Abdurrauf Ar-Rahmani, Syaikh Yahya bin Utsman Al-Bakistani dan lainnya banyak sekali.

Diantara tulisan beliau : Al-isnad mina din wa min khoshoish umat sayyidil mursalin, Wajib At-Tatsabut fi Riwayah, Tahrif Ahlu Taqdis, Hadits sholat istikhoroh, Kaukabah min A’imatul Hadi dan lain-lain.

e-mail : al_qaryoti@hotmail.com

al_qaryoti@yahoo.com

HP. 00966504365330

Syaikh Muhammad dan Umar Asyqar

Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al-Asyqar.

Beliau adalah Muhammad bin Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Sulaiman, lahir Burqa tahun 1930 M, beliau adalah penulis kitab tafsir Zubdat At-Tafsir yang dirangkum dari kitab Tafsirnya As-Syaukani.

Sekitar tahun 1950 beliau hijrah ke Riyadh dan menjadi pustakawan di Darul Ifta. Diantara guru beliau adalah Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi dalam ilmu tafir dan ushul fiqh, Syaikh Abdul Aziz bin Bazz dalam fiqh dan aqidah, Syaikh Abdul Aziz Rasyid dalam Faroid, Syaikh Abdurrahman Al-Ifriki dalam Ilmu Hadits, Syaikh Abdul Latif Sarhan dalam Ilmu Nahwu, Syaikh Yusuf Dhiba’ dan lainnya.

Beliau juga pernah di Universitas Islam Madinah dan Al-Azhar, sampai kemudian pindah ke Kuwait dan terakhir di Amman Yordania.

Beliau meninggal 16 November 2009 lalu.

Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi

Beliau adalah Asy-Syaikh Al-Fadlil Al-Allamah, Al-Muhaddits, Al-Musnad, Al-Faqih, mufti daerah Jizaan, Ahmad bin Yahya bin Muhammad bin Syabir An-Najmi dari keluarga Syabir dari Bani Hummad. Lahir di Najamiyah pada tanggal 26 Syawwal 1346 H, dalam asuhan dua orang tua yang shalih. Beliau duduk berguru kepada Syaikh Abdullah Al-Qar’awi di kota Shamithah sampai kemudian syaikh mendapatkan ijazah riwayat dari beliau.

Beliau juga berguru kepada: Syaikh Ibrahim bin Muhammad Al-’Amuudi, Syaikh Ali bin Syaikh Utsman Ziyaad Ash-Shomali, Syaikh Al-’Allamah Mufti negeri Saudi Arabia As-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alus Syaikh, As-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, As-Syaikh Hafidh bin Ahmad Al-Hakami, As-Syaikh Abduh bin Muhammad Aqil An-Najmi, As-Syaikh Utsman bin Utsman Hamli dan lainnya.

Diantara sebagian murid beliau: As-Syaikh Al-Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, As-Syaikh Al-Allamah Zaid bin Muhammad Hadi Al-Madkhali, As-Syaikh Al-Fadlil Ali bin Nashir Al-Faqihi.

Beliau banyak memiliki karya-karya tulis ilmiah, diantaranya: Awdlahul Irsyad fir Rad ‘ala Man Abahal Mamnuu’ minaz Ziyarah, Ta’sisul Ahkam Syarah Umdatul Ahkam, Tanzihusy Syari’ah ‘an Ibahatil Aghanil Khali’ah. Risalatul Irsyad ila Bayanil Haq fi Hukmil Jihad, Risalah fi Hukmil Jahri bil Basmalah, Fathur Rabbil Waduud fil Fatawa war Ruduud, Al-Mawridul ‘Udzbuz Zalaal fiimaa Intaqada ‘ala Ba’dlil Manahijid Da’wiyah minal ‘Aqaaid wal A’mal dan lainya.

Beliau wafat pada hari rabu sore, 23 Juli 2008 atau 19 Rajab 1429 H, rahimahullahu.

5 Responses to “Mari Kita Kenal ULAMA Kita!!-biografi singkat ulama ahlussunnah”

  1. abu fadil Says:

    assalamu’alaikum wrwb….. alhamdulillah,ana lebih banyak tau sekarang….. InsyaAlloh. sukron ya akhi

  2. ahmed arselan Says:

    semoga Alloh subhana wa ta’ala membalas kebaikan yang setimpal, krena telah mnyebarkan kebaikan… amiiin

  3. Saya bertanya menurut pengetahuan yang saya pelajari bahwa Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, adalah Ulama Wahabi/salafi bukan Ulama ahlussunnah wal-jama’ah, apakah benar??? karena semua referensi yang saya dapatkan mengarah kesana…trimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: