Hal-hal Yang Disunnahkan Dalam Walimah

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengadakn walimah adalah
sebagai berikut:

a. Perayaan walimah tersebut dilakukan 3 (tiga) hari setelah hari
pernikahannya, seperti yang diriwayatkan oleh Anas RA, ia
berkata, “Rasulullah SAW ketika menikah, memerintahkan saya
untuk mengundang orang-orang untuk makan-makan dalam
pesta pernikahannya. (77)

Dari Anas Ra, ia berkata, “Rasulullah SAW menikah dengan
Shafiyah mas kawinnya adalah ‘pembebasannya’ (sebagai
tawanan perang Khaibar), dan mengadakan upacara
pernikahan selama tiga hari. (78)

b. Agar mengundang orang-orang yang shalih, baik miskin atau kaya,
sesuai dengan wasiat Rasulullah SAW, “Jangan bersahabat
kecuali dengan orang-orang mukmin dan jangan makan
makananmu kecuali orang-orang muttaqin (yang takwa). (79)

c. Sedapat mungkin memotong seekor kambing atau lebih, sesuai
dengan taraf ekonominya. Sesuai dengan hadits Anas bin Malik RA
berkata, “Sesungguhnya Abdurrahman bin Auf tiba di Madinah,
lalu dia dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan Sa’ad bin Rabi’ Al
Anshari. Sa’ad membawa saudaranya itu ke rumah dan
menyuguhkan makanan, lalu mereka makan bersama. Lalu Sa’ad
berkata,’ Wahai saudaraku Abdurrahman, saya sendiri berada di
kota Madinah ini (dalam riwayat lain, di kalangan orang Anshar).
Saya akan membagi dua kekayaan itu kepadamu (dalam riwayat
lain dikatakan, mari pergi ke kebun saya, nanti akan saya bagi kebun
itu untukmu). Sayajuga mempunyai dua orang istri dan engkau (wahai
saudaraku karena Allah) seorang yang tidak mempunyai istri. Pilihlah
seorang di antara mereka yang engkau sukai, sebutkan mana yang
engkau pilih, lalu saya ceraikan dia untuk kau nikahi’.
Tidak saudaraku -jawab Abdurrahman- semoga dengan kemurahan
hatimu itu Allah memberikan berkah kepadamu dan harta
kekayaanmu. Tolong tunjukkan saja kepadaku jalan ke pasar. Sa’ad
menunjukkan jalan ke pasar. Abdurrahman pergi berjualan ke pasar
dan mendapat untung. Pada hari berikutnya ia pulang ke rumah
membawa susu. (80) dan samin untuk keluarganya. Beberapa hari
kemudian ia membawa lagi minyak za’faran yang semerbak bau
wanginya. Rasulullah SAW menegur, ‘Apa yang telah terjadi? (81)
Ia menjawab,’ Ya, Rasulullah, saya telah kawin dengan wanita
Anshar’. Rasulullah S AW bertanya lagi, “Apa mas kawinnya?”
ia menjawab, “Emas satu biji (lima dirham-penj).” (82)

Beliau bersabda,” Wa Barakallahu laka ” (rasul mendoakan
mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan kepadamu), maka
adakanlah walimah, meski hanya dengan seekor kambing.” Nasihat
rasulullah dia laksanakan. Lalu Abdurrahman berkata, ‘Sungguh, setelah
itu rezeki saya semakin melimpah, sehingga jika saya mengangkat batu,
benda itu dapat berubah emas di tangan saya.'”
Selanjutnya Anas bercerita, “Ketika ia wafat saya melihat semua istrinya
masing-masing mendapatkan harta waris sebesar 100.000 dinar.” (83)

Diriwayatkan dari Anas pula, berkata, “Saya belum pernah melihat
Rasulullah SAW mengadakan walimah semeriah ketika beliau menikah dengan
Zainab. Baginda memotong seekor kambing, lalu berkata, ‘Berikan
kepada tamu roti dan daging!’ Ternyata hidangan itu tidak habis dimakan.” (84)

Note :
77)
HR. Bukhari (9/189-194), Al Baihaqi (7/260). Lafazhnya milik Al Baihaqi dan juga
diriwayatkan dari selain keduanya.
78)
Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dengan sanad hasan, sebagaimana dikatakan dalam kitab AI
Fath (9/199), dan juga diriwayatkan dalara kitab Shahih Bukhari (7/387) dengan maknanya.
79)
HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, Al Hakim (4/128), dan Ahmad (3/38); dari hadits Abi Said Al
Khudri, dan Al Hakim berkata, “Shahih isnadnya,”dan disetujui oleh Adz-Dzahabi.
80)
susu yang dijemur dan dikeringkan. (An-Nihayah)
81)
Kenapa atau apa yang kamu lakukan ?
82)
Ibnu Atsir berkata dalam kitab An-Nihayah
“Kata biji merupakan nama simbol untuk lima dirham, dan Al Azhari berkata, “Lafazh hadits ini menunjukkan bahwa ia menikahi wanita itu dengan mas kawin lima dirham, karena ia mengatakan “satu biji emas”. Perkataan ini juga diceritakan dalam kitab AlFath (9/192) dari kebanyakan ulama. Datang pada sebagaian jalur hadits dari Anas dalam masalah tafsir kalimat “biji,” ia berkata; “Kami mengukurnya seperempat dinar”. Hadits ini diriwayatkan oleh At Thabrani dalam kitab Al Awsath (1/131/2 termasuk dari hadits yang terdapat tambahannya), dan dalam sanadnya terdapat Mu’ammar bin Sahal. Saya belum menemukan terjemahnya, dan adapun perkataan Al Haitsami (4/52); “Dalam sanadnya terdapat Al Qasim bin Mu’an, dan saya belum menemukan terjemahnya.” Telah banyak ditulis tentang permasalahan itu, dan Al-Qasim ini adalah perawi yang tsiqah, dan termasuk salah seorang perawi Abu Daud dan An-nasa’i. Mungkin yang ia ingin menulis Mu’ammar bin Sahal, tapi ia lupa sehingga ia menulis, “Al Qasim bin Mu’an”. Wallahu a’lam. Kemudian saya mendapatkan Mu’ammar bin Sahal mempunyai terjemah yang baik dalam kitab Ats-Tsiqat karangan Ibnu Hibban (9/196 -cetakan India), ia berkata, “Mu’ammar bin Sahal bin Mu’ammar Al Ahwaazi adalah seorang syaikh yang teliti dari Yaghrib”. Akan tetapi perawi darinya, Muhammad bin Mahmawaih Al Jauhari -Syaikhnya At Thabrani-
saya belum mendapatkan terjemahnya, walaupun nampaknya ia adalah salah satu syaikhnya
83)
HR. AlBukhari (4/232,7/89,9/95, dan l90-192), An-Nasa’i (2/93), Ibnu Sa’ad (3/2/77), AlBaihaqi (7/258), Ahmad (3/165, 190, 204, 226, dan 271), dan Abu Al Hasan At Thusi dalam kitab Al Mukhtashar (1/110/1). Siyak lafazhnya milik keduanya, dan isnad kedua hadits tersebut shahih sesuai dengan syarat Muslim. Sebagian tambahan juga milik keduanya, dan sisanya dengan riwayat-riwayat lainnya adalah riwayat Al Bukhari, Ahmad, An-Nasa’i dan Ibnu Sa’ad. Hadits ini berada di Shahih Muslim (4/144 -145), Abu Daud (1/329), At-Tirmidzi (2/172-173) dan ia menshahihkannya, Ad-Darami (3/104 dan 143), Ibnu Majah (1/589-590), Imam Malik (2/76-77), At-Thahawi dalam kitabAl Musykil (4/145), Ibnu Al Jarud dalam kitab Al Muntaqa (715), Ath-Thayalisi (1/306) dengan ringkas; tanpa kisah Sa’ad dengan Abdurrahman. Saya telah mentakhrij hadits ini dari empat jalur ini dari Anas bin Malik, dan saya sebutkan sebuah syahid dari hadits Abdurrahman sendiri dalam kitab saya Irwaa Al Ghalil (no: 198).
84)
HR. AlBukhari (7/192), Muslim (4/149) dan lafazh serta tambahan miliknya, Abu Daud
(2/137), IbnuMajah (1/590), Ahmad (3/98,99,105,163,172,195,200,227,236,241,246, 263),
dan pada satu riwayat tambahannya miliknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: