Mana Yang Muslim dan Mana Yang Kafir?? Dari Pemimpin Kaum Muslimin..

Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam menyatakan:

“Bila penguasa kalian itu adalah hamba sahaya yang terpotong hidung dan daun telinganya, (aku menyangka beliau menyatakan) yang kulitnya hitam, dia memimpin kalian dengan Kitab Allah (yakni Al-Qur’an dan tafsirnya yaitu Al-Hadits, pen), maka dengarkan dan taatilah perintah penguasa itu.” (HR. Muslim dalam Shahih nya, Kitabul Imarah Bab Wujub Tha’atil Umara’ fi Ghairi Ma’shiyah ).

Maka penguasa Muslim itu adalah penguasa yang menjalankan kekuasaannya atas negara yang dipimpinnya dengan berdasarkan hukum Syari’ah Islamiyah sebagai acuan hukum negara. Atau penguasa yang mengakui bahwa hukum Syari’ah Islam Islamiyah adalah satu-satunya hukum yang sah dalam mengatur segala aspek kehidupan di dunia ini.

Sedangkan penguasa yang kafir itu ialah penguasa yang menolak untuk mengakui hukum Syari’ah Islamiyah sebagai satu-satunya hukum yang sah dalam mengatur segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, padahal dia mengerti bahwa Allah telah mewajibkan ummat manusia untuk menegakkan keadilan di muka bumi hanya melalui penerapan hukum Syari’ah Islamiyah.

As-Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menerangkan tentang makna An-Nisa’ 65 sebagai berikut:

“Dan barang siapa yang meninggalkan kewajiban ber tahkim (yakni minta keputusan hukum, pent) kepada Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam sebagaimana yang disebutkan di ayat ini, dengan meyakini bahwa ia tidak wajib menjalankannya, maka orang yang demikian ini adalah kafir. Sedangkan orang yang tidak ber tahkim kepadanya, tetapi merasa terikat dan meyakini wajibnya menerapkan hukum beliau, maka yang demikian itu adalah orang yang berbuat maksiat.” ( Taisirul Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan , jilid 2 hal 94).

As-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menerangkan tentang makna ayat ini sebagai berikut:

“Maka orang-orang yang ber tahkim kepada hukum selain hukum Allah dan berpandangan bahwa perbuatan tersebut diperbolehkan terhadapnya, atau bahkan berpandangan bahwa hukum yang lainnya itu lebih baik dari hukum Allah, maka orang yang demikian itu telah keluar dari agama Islam dan mereka itu adalah orang-orang kafir, dhalim dan fasiq.” ( Fatawa Watanbihat wa Nashaih , As-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, halaman 137).

As-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’ie rahimahullah menerangkan:

“Tidak boleh suatu penguasa itu dihukumi kafir kecuali bila dia menganggap halal apa yang telah diharamkan oleh Allah, maka dia dikafirkan dengan tiga syarat, yaitu:

1). Penguasa itu dalam keadaan berilmu (yakni mengerti tentang hukum Syari’ah dalam perkara halal dan haram tersebut, pen).

2). Penguasa itu berbuat demikian dalam keadaan tidak dipaksa.

3). Penguasa itu berpandangan bahwa hukum yang lainnya itu sama baiknya dengan hukum Islam, atau lebih baik dari hukum Islam.”

( Ijabatus Sa’il ala Ahammil Masa’il , As-Syaikh Abu Abdir Rahman Muqbil bin Hadi Al-Wadi’ie, halaman 568).

As-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menerangkan lebih lanjut:

“Penguasa yang tidak berhukum dengan Kitabullah (yakni Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya (yakni Al-Hadits), wajib ditaati dalam perkara yang tidak mengandung maksiyat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan tidak wajib diperangi penguasa itu karena pelanggarannya tersebut, bahkan tidak boleh diperangi. Kecuali bila penguasa itu telah sampai pada batas kekafiran. Maka bila sudah sampai pada tingkat demikian itu, wajib untuk disingkirkan penguasa itu dari kekuasaannya dan kaum Muslimin tidak boleh taat kepadanya. Adapun berhukum dengan selain Al-Qur’an dan Al-Hadits yang sampai pada kekafiran itu ialah dengan dua syarat; yaitu: Pertama , Penguasa tersebut dalam keadaan berilmu dengan hukum Allah dan Rasul-Nya. Karena bila dia dalam keadaan jahil tentangnya, maka penguasa itu tidaklah dikafirkan karena penyimpangannya itu. Kedua , Penguasa itu berhukum dengan yang datang dari selain Allah karena yakin bahwa hukum Allah itu telah tidak cocok lagi dengan keadaan jaman sekarang ini dan hukum yang lainya lebih cocok dengan situasi dan keadaan masa kini dan lebih bermanfaat bagi ummat manusia. Dengan dua syarat tersebut maka penguasa yang menjalankan hukum dengan selain yang datang dari Allah dan Rasul-Nya adalah penguasa yang kafir dengan kekafiran yang mengeluarkannya dari Islam, karena firman Allah menyatakan: (artinya) Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang kafir –S. Al Maidah 44- . Dan gugurlah kekuasaannya, dan tidak berhak lagi untuk ditaati oleh rakyatnya, bahkan wajib untuk diperangi dan disingkirkan dari kekuasaannya. Adapun bila penguasa itu berhukum dengan selain hukum Allah, tetapi dia masih tetap meyakini bahwa berhukum dengan hukum Allah adalah wajib dan hukum Allah itu lebih besar maslahat nya bagi manusia. Akan tetapi dia menyelisihi hukum itu karena hawa nafsunya atau karena ingin mendhalimi si terhukum, maka yang demikian itu tidaklah dianggap kafir. Akan tetapi dia adalah penguasa yang fasiq atau dhalim. Kekuasaannya tetap berlaku dan wajib untuk ditaati dalam perkara yang tidak mengandung kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Juga tidak boleh diperangi atau disingkirkan dari kekuasaannya dengan kekuatan atau dengan pemberontakan. Karena Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam melarang untuk memberontak kepada penguasa, kecuali bila kita melihat kekafiran yang nyata dan kita mempunyai bukti kekafiran mereka itu di sisi Allah.” ( Majmu’ Fatawa wa Rasa’il , Fadlilatus Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, jilid dua halaman 147 – 148).

As Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ketika ditanyai dengan pertanyaan:

“Apa hukumnya orang-orang yang menuntut dilaksanakannya hukum yang berdasarkan prinsip sosialisme dan komunisme dan memerangi hukum Islam? Dan apa pula hukum orang-orang yang membantu perjuangan mereka dengan target akhir perjuangannya seperti itu dan mencerca orang-orang yang menuntut dilaksanakannya hukum Islam dan mengejek mereka serta menuduh mereka dengan berbagai tuduhan keji, apakah orang yang seperti demikian ini boleh menjadi imam memimpin shalat berjamaah di masjid-masjid Muslimin?”

Jawaban beliau adalah:

“Telah sepakat para Ulama’ bahwa siapa yang beranggapan bahwa hukum selain Islam itu lebih baik dari hukum Islam, atau beranggapan bahwa ajaran selain dari Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam itu lebih baik dari ajaran beliau shallallahu `alaihi wa sallam , maka orang yang beranggapan demikian itu adalah kafir. Sebagaimana pula para Ulama’ telah sepakat bahwa siapa saja beranggapan bahwa boleh bagi seseorang untuk tidak terikat dengan ketentuan Syari’at Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam , atau meyakini boleh menjalankan hukum selain hukum beliau, maka orang yang demikian itu adalah kafir dan sesat. Dengan dalil-dalil Al-Qur’an yang telah kami sebut dan juga kesepakatan para Ulama’, kiranya penanya dan pembaca yang lainnya mengerti bahwa orang-orang yang menyeru kepada paham sosialisme atau komunisme atau yang selain keduanya dari paham-paham yang meruntuhkan dan menentang hukum Islam, maka orang-orang yang demikian itu adalah kafir dan sesat, lebih kafir dari Yahudi dan Nashara. Karena mereka itu adalah orang-orang yang atheis yang tidak beriman kepada adanya Allah dan tidak beriman pula kepada adanya hari kiamat. Tidak boleh seorang pun dari orang-orang yang demikian ini menjadi khatib dan imam di satu masjid pun dari masjid-masjid Muslimin, dan tidak sah shalat yang dilakukan di belakang mereka (yakni tidak sah shalatnya orang yang bermakmum di belakang imam yang berpaham demikian, pent) dan semua yang mendukung perjuangan orang-orang yang menebarkan kesesatan paham demikian dan menganggap baik seruan orang-orang yang menyeru kepada pemahaman demikian, serta mencerca dan mencibir para penyeru kepada hukum Islam, maka orang-orang yang demikian itu juga kafir dan sesat. Hukum mereka sama dengan hukum golongan-golongan atheis yang berjalan di atas pola pemahamannya dan membantu tuntutan untuk menjalankan pemahaman sesat itu. Dan sungguh para Ulama’ Islam telah sepakat bahwa orang yang mendukung dan membantu orang-orang kafir dalam memerangi kaum Muslimin (karena alasan agama, pent) dengan bantuan model apapun, maka orang yang demikian itu adalah kafir seperti keadaan orang-orang kafir yang dibantunya itu. Sebagaimana hal ini telah dinyatakan dalam firman Allah Ta`ala:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nashara sebagai kekasih kalian. Sebagian mereka adalah kekasih bagi sebagian yang lainnya. Maka barangsiapa dari kalian yang menjadikan mereka sebagai kekasih, maka sungguh dia adalah termasuk dari golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki kaum yang dhalim.” ( Al-Maidah : 51)

Juga Allah Ta`ala berfirman:

“Hai orang-orang beriman, janganlah kalian menjadikan bapak-bapak kalian dan saudara-saudara kalian sebagai orang-orang yang kalian cintai bila mereka lebih mencintai kekafiran dari pada keimanan. Dan barang siapa dari kalian yang mencintai mereka maka sungguh orang-orang yang demikian itu adalah orang-orang yang dhalim.” ( At-Taubah: 23)

Aku harapkan dengan keterangan ini dapat mencukupi keperluan penanya dalam mencari penjelasan dan meyakinkannya untuk memperoleh kebenaran, dan Allah itu selalu menyatakan yang benar dan Dia menunjuki jalan yang benar. Kita memohon kepada-Nya Yang Maha Suci untuk memperbaiki keadaan kaum Muslimin dan menyatukan suara mereka di atas kebenaran. Kita memohon juga kepada-Nya agar Dia menghancurkan musuh-musuh Islam, serta mencerai-beraikan kesatuan mereka dan merontokkan kekuatan mereka dan melindungi kaum Muslimin dari kejahatan musuh-musuhnya. Sesungguhnya Allah atas segala sesuatu maha kuasa dan semoga shalawat dan salam dilimpahkan atas hamba-Nya dan Rasul-Nya Nabi kita Muhammad dan semoga shalawat dan salam juga terlimpah atas ahli baitnya serta para shabatnya.” Demikian Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjawab pertanyaan seorang penanya dari Pakistan . ( Fatawa wa Tanbihat wa Nasha’ih , As-Syaikh Abdul Aziz bin Baz halaman 135 – 136).

Kita melihat dalam nukilan-nukilan tersebut di atas bahwa para Ulama’ Ahlus Sunnah wal Jama’ah telah sepakat dalam memandang siapakah penguasa yang kafir dan siapa pula penguasa yang Muslim. Semua keterangan tersebut perlu kita pahami dengan benar agar kita jangan terjatuh pada sikap membabi buta ketika menyikapi kondisi penguasa atau pemerintah. Membabi buta mengkafirkan pemerintah ketika mendapati kekeliruan yang dilakukannya adalah sikap yang salah. Demikian pula sikap membabi buta dalam menganggap pemerintah itu sebagai lembaga sakral yang tidak boleh dikritik dan dicerca kekeliruannya, juga adalah sikap yang salah. Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersikap adil dalam segala perkara dan menentang sikap ekstrim dalam segala hal, termasuk pula dalam perkara As-Siyasah As-Syar’iyyah (perpolitikan menurut pandangan Syari’ah Islamiyah).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: