Mengingkari Kemungkaran & Kedhaliman Penguasa Dengan Tangan / Fisik

perang-salibYakni dengan tindakan fisik yang kiranya dapat mencegah kemungkaran tersebut atau minimal rakyat banyak telah mengerti bahwa apa yang dilakukan oleh penguasa itu adalah salah. Dan pengingkaran dengan cara demikian adalah paling baik dengan syarat tidak sampai menimbulkan fitnah atau kekacauan yang berakibat hancurnya harta kaum Muslimin atau tertumpahnya darah Muslimin ataupun gangguan keamanan di dalam kehidupan kaum Muslimin. Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya manusia (yakni kaum Muslimin, pent) bila melihat orang dhalim berbuat kedhaliman dan tidak menarik tangannya agar jangan berbuat kedhaliman, maka sangat dikuatirkan akan ditimpakan adzab Allah yang merata terhadap mereka akibat sikap mendiamkan kedhaliman itu.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunan nya Kitabul Fitan bab ke 8).

Mencegah kemungkaran penguasa dengan tangan ini telah dicontohkan oleh Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam yang bernama Abu Sa’id Al-Khudri radliyallahu `anhu , sebagaimana beliau telah ceritakan sendiri dalam riwayat Al-Bukhari di kitab Shahih nya Kitabul ‘Iedain , Bab Al-Khuruj ilal Mushalla Bighairi Minbar , hadits ke 956, sebagai berikut:

“Dulu Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam pada hari Iedul Fitri atau Iedul Adlha keluar ke lapangan. Maka yang pertama beliau lakukan di lapangan itu adalah shalat Ied, kemudian beliau berpaling dari arah kiblat menghadapkan muka beliau kepada sekalian manusia dan orangpun duduk di shafnya masing-masing, sehingga beliau menasihati mereka dan memberi wasiat serta memberi perintah-perintah. Dan bila beliau akan mengiring kepergian pasukan perang yang akan berangkat menuju medan perang atau utusan beliau akan berangkat untuk menunaikan suatu urusan, beliau memutus khutbah itu untuk menunaikan keperluan-keperluan tersebut. Sehingga setelah beliau khutbah itu, beliaupun pulang kembali ke rumahnya.”

Abu Said Al-Khudri melanjutkan ceritanya: “Dan kaum Muslimin terus menerus dalam cara shalat Ied seperti itu, sehingga suatu hari aku keluar ke lapangan bersama Marwan, dan dia sebagai gubernur Madinah waktu itu, untuk menunaikan shalat Iedul Adlha atau Iedul Fitri. Maka ketika kami telah sampai di lapangan, ternyata mimbar telah dibikin oleh Katsir bin As-Shalt di lapangan itu, dan tiba-tiba Marwan ingin naik mimbar sebelum dilaksanakannya shalat Ied, maka akupun menyeretnya dengan menarik jubbahnya. Dan Marwan balik menyeret jubbahku, dan dia pun langsung naik mimbar itu serta mulai berkhutbah sebelum shalat. Maka akupun menyatakan kepadanya: “Demi Allah, engkau telah merubah (yakni merubah pengamalan cara shalat Ied yang diajarkan, pen)…………..”

Demikian cerita Abu Sa’ied Al-Khudri radliyallahu `anhu melakukan inkarul munkar (mengingkari kemungkaran) terhadap penguasa di depan umum dengan tangannya dan dengan lisannya. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari jilid ke dua halaman 450 ketika menerangkan hadits ini menyatakan:

“Dalam hadits ini dapat kita ambil pengertian bahwa Ulama’ itu mestinya menginkari perbuatan penguasa yang menyelisihi ajaran Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam .”

dikutib dari situs alghuroba.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: