Mengingkari Kedhaliman Penguasa Dengan Lisan

Mengingkarinya dengan lisan, bila tidak mampu mencegahnya dengan tangan.

Ini tentunya kedudukan kedua dalam keutamaannya setelah keutamaan mencegah kemungkaran itu dengan tangan. Perbuatan tersebut telah dicontohkan oleh para Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dalam mengingkari kesalahan penguasa atau kemungkaran dan kedzalimannya. Di antara beberapa riwayat yang menceritakan perbuatan para Shahabat Nabi dalam mengingkari kesalahan penguasa adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya dalam Kitabul Hajj seperti berikut ini:

“Sa’id bin Al-Musayyib menceritakan: Utsman dan Ali radliyallahu `anhuma berselisih di tempat yang bernama ‘Usfan tentang haji tamattu’ . Ali menyatakan kepada Utsman: “Engkau tidak menginginkan kecuali melarang perkara yang pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu `alaihi wa sallam .” Maka ketika Ali tetap berpandangan pada pendiriannya, beliau bertalbiyah menunaikan haji dan ‘umrah bersamaan (yakni menunaikan haji qiran , yang dinamakan juga dengan tamattu’ , pent).” (Riwayat Al-Bukhari dalam Shahih nya hadits ke 1569).

Perselisihan keduanya itu ialah Utsman bin Affan sebagai penguasa melarang orang melakukan haji tamattu’ dan qiran , karena beliau menginginkan agar kaum Muslimin menjalankan manasik haji yang paling utama dalam pandangan beliau, yaitu haji ifrad . Tetapi Ali bin Abi Thalib menentang larangan tersebut karena beliau kuatir kalau orang nantinya menganggap bahwa manasik haji yang boleh itu hanyalah haji ifrad . Sehingga beliau dengan sengaja menyelisihi perintah Utsman sebagai penguasa dan menjalankan haji qiran . Di riwayat Muslim dalam Shahih nya Kitabul Haj Bab Jawazit Tamattu’ diceritakan oleh Sa’id bin Al-Musayyib dan Abdullah bin Syaqiq bahwa Utsman sempat menyatakan kepada Ali: “Biarkan kami dengan ketentuan kami.” Maka Ali pun menyatakan kepada Utsman: “Aku tidak bisa membiarkan engkau dengan ketentuanmu itu.”

Terhadap riwayat tersebut Ibnu Hajar Al-Asqalani memberikan komentar:

“Dalam kisah Utsman dan Ali ini ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik, dimana semestinya seorang Ulama’ itu menyebarkan ilmu yang dia ketahui dan menampakkannya (di depan masyarakat umum, pent), dan juga seorang Ulama’ itu dapat mendebat penguasa dan lain-lainnya dalam menunaikan upaya menyebarkan dan menampakkan pengamalan ilmu itu, tentu bagi mereka yang berkemampuan menjalankannya untuk keperluan kebaikan kaum Muslimin, serta menerangkan ilmu itu dengan perkataan dan perbuatan.” ( Fathul Bari , Ibnu Hajar Al-Asqalani, jilid 3 halaman 425).

Adapun contoh tentang perbuatan para Shahabat Nabi dalam mengingkari kedhaliman penguasa dengan lisannya adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih nya berkenaan dengan peristiwa dibunuhnya Abdullah bin Az-Zubair radliyallahu `anhuma oleh Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi di Makkah, dan Al-Hajjaj adalah panglima perang bagi kerajaan Bani Umayyah di masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Al-Hajjaj setelah membunuh Abdullah bin Az-Zubair, menyalib mayatnya di tanah Haram Makkah Al-Mukarramah dan Al-Hajjaj menyebarkan di masyarakat Muslimin bahwa Abdullah bin Az-Zubair adalah musuh Allah, berbuat dhalim dan berbagai atribut kejelekan untuk mendiskreditkannya di kalangan kaum Muslimin. Tetapi kemudian Abdullah bin Umar bin Al-Khattab radliyallahu `anhuma sengaja mendatangi tempat disalibnya mayat Abdullah bin Az-Zubair dan kemudian di depan umum dia menyatakan sambil menghadapkan muka ke mayat tersebut: “ Assalamu alaika (sejahtera bagimu) wahai Aba Hubaib ( kuniah bagi Abdullah bin Az-Zubair, karena anaknya yang terbesar bernama Hubaib, jadi Abu Hubaib artinya bapaknya Hubaib, pent), Assalamu alaika wahai Aba Hubaib, Assalamu alaika wahai Aba Hubaib. Sesungguhnya demi Allah, aku telah pernah melarang engkau untuk melakukan perbuatan ini (yakni berkepanjangan dalam berebut kekuasaan dengan Bani Umayyah, pent), sesungguhnya demi Allah aku telah pernah melarang engkau untuk melakukan perbuatan ini, sesungguhnya demi Allah aku telah pernah melarang engkau untuk melakukan perbuatan ini. Dan demi Allah aku persaksikan, aku tidak mengetahui perbuatanmu kecuali sebagai orang yang banyak berpuasa, banyak shalat malam, suka menyambung silaturrahmi. Dan demi Allah pula aku persaksikan, kalau seandainya dalam suatu ummat itu, orang yang dianggap terjelek itu adalah engkau, sungguh ummat itu adalah ummat yang baik.” Kemudian Abdullah bin Umar setelah menyatakan demikian, beliaupun pergi meninggalkan mayat Abdullah bin Az-Zubair di tiang penyaliban itu.

Sikap Abdullah bin Umar yang demikian itu telah sampai beritanya kepada Hajjaj, sehingga Hajjaj memerintahkan untuk diturunkannya mayat Abdullah bin Az-Zubair dari tiang penyaliban itu dan dikuburkannya di kuburan orang-orang Yahudi. Kemudian Hajjaj mengirim utusannya untuk memanggil ibunya Abdullah bin Az-Zubair yang bernama Asma’ bintu Abi Bakar As-Siddiq radliyallahu `anhuma agar datang menghadap ke Hajjaj. Tetapi Asma’ menolak panggilan itu. Utusan Hajjaj datang lagi kepada Asma’ untuk menyampaikan ultimatumnya kepada Asma’: “Engkau datang kepadaku sekarang juga, atau aku akan utus orang untuk menyeretmu pada kedua tandukmu (yakni Asma’ suka menggelung rambutnya dengan dua gelungan di kanan dan kiri sehingga dikatakan oleh Hajjaj dua tanduknya, pent) untuk dibawa kepadaku dengan paksa.”

Mendengar ultimatum keras dari Hajjaj itu, Asma’ menjawab: “Demi Allah, aku tidak akan mendatangimu sehingga engkau menyeret aku pada kedua tandukku.”

Demi mendengar betapa Asma’ menolak panggilannya, Hajjaj bergegas memakai alas kakinya dan segera mendatangi tempat tinggal Asma’ dan segera masuk kerumahnya. Sesampainya di hadapan Asma’, Hajjaj menyatakan kepadanya: “Bagaimana pandanganmu terhadapku dengan tindakanku terhadap musuh Allah (yakni Abdullah bin Az-Zubair)?”

Asma’ bintu Abi Bakar As-Siddiq, yang ia adalah ibunya Abdullah bin Az-Zubair, menjawab: “Engkau telah menghancurkan dunianya, dan dia telah menghancurkan masa depanmu di akherat. Telah sampai kepadaku kabar bahwa engkau memanggil Abdullah bin Az-Zubair dengan panggilan “putra Dzatu Nithaqain” (maknanya ialah putra perempuan yang biasa berpakaian dengan mengikat baju panjangnya di pinggangnya untuk mudah bergerak ke sana kemari bila sedang bekerja. Hajjaj memanggil Abdullah bin Az-Zubair dengan menyebut ibunya seperti itu adalah untuk merendahkannya, pent). Ketahuilah olehmu, aku memang Dzatu Nithaqain. Ketahuilah olehmu, aku mengikat bajuku itu adalah karena aku selalu melayani Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan Abu Bakar As-Siddiq untuk menyediakan makan bagi keduanya. Ketahuilah olehmu, aku sesungguhnya mendengar Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam memberitakan kepada kami bahwa dari kabilah Tsaqif akan keluar sang pendusta dan sang pembinasa. Adapun sang pendusta dari Bani Tsaqif, sungguh kita telah menyaksikannya (yaitu Al-Mukhtar bin Abi Ubaid Ats-Tsaqafi, yang mengaku jadi Nabi dan mengaku didatangi Jibril `alaihis salam , pent), adapun sang pembinasa dari Bani Tsaqif itu aku yakin adalah engkau.”

Mendengar omongan Asma’ yang tajam itu, Hajjaj bergegas keluar dari rumah Asma’ dan tidak kembali lagi kepadanya.

Imam Muslim bin Hajjaj An-Nisaburi meriwayatkan kejadian tersebut dengan panjang lebar dalam kitab Shahih nya di Kitab Fadhailus Shahabah bab Dzikru Kadzdzabits Tsaqif wa Mubiruha , dari Abi Naufal Amr bin Abi ‘Aqrab. Dan kami bawakan di sini dengan meringkas sebagian keterangan yang ada padanya.

Demikianlah sikap Shahabat Nabi terhadap kedhaliman pejabat tinggi negara yang bernama Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqfi. Yang dalam riwayat ini ialah tampilnya Abdullah bin Umar radliyallahu `anhuma memuji dan menyanjung Abdullah bin Az-Zubair di depan khalayak ramai, walaupun mengandung resiko didhalimi oleh Hajjaj. Karena Ibnu Zubair adalah tokoh yang merupakan lawan politik terberat bagi pemerintahan Bani Umayyah. Dan Hajjaj sedang bertugas memberangus kekuatan politik Ibnu Zubair dan segenap pendukungnya, dengan cara menghancurkan kekuatan militernya dan membunuhnya, serta mengopinikan kepada khalayak ramai, betapa buruknya perbuatan Ibnu Zubair ini. Kaum Muslimin waktu itu, tentu dalam suasana ketakutan untuk dicap sebagai pendukung Ibnu Zubair. Karena resikonya bila dinilai demikian, adalah mati di hadapan algojonya Hajjaj. Sehingga ketika Hajjaj dan tentaranya menyebarkan tuduhan-tuduhan keji terhadap Abdullah bin Az-Zubair, kaum Muslimin tidak ada yang berani membantahnya, walaupun mereka semua telah mengetahui bahwa segala tuduhan Hajjaj terhadap Ibnu Zubair itu tidak benar. Dalam suasana mencekam seperti itu, Abdullah bin Umar tampil di depan khalayak ramai, membantah segala tuduhan Hajjaj terhadap Ibnu Az-Zubair dengan caranya sendiri. Al-Imam Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi (terkenal dengan nama Imam Nawawi) memberikan komentar terhadap sikap dan tindakan Abdullah bin Umar bin Al-Khattab radliyallahu `anhuma sebagai berikut:

“Dan dalam kisah ini tampak keutamaan Ibnu Umar, karena beliau menyatakan kebenaran di depan halayak ramai dan tidak takut dengan Hajjaj. Karena Ibnu Umar yakin bahwa berdirinya beliau di hadapan mayat Abdullah bin Az-Zubair, serta omongan dan pujiannya bagi Ibnu Az-Zubair itu pasti akan dilaporkan kepada Hajjaj. Maka keyakinan bahwa perbuatannya itu akan dilaporkan kepada Hajjaj, tidaklah menghalanginya untuk mengucapkan kebenaran, serta mempersaksikan kebaikan Ibnu Zubair sesuai dengan apa yang dia ketahui. Sebagai bantahan terhadap kebatilan berita yang disebarkan oleh Hajjaj tentang Ibnu Zubair yang dikatakan bahwa dia adalah musuh Allah, orang dhalim, dan berbagai tuduhan yang semisal itu. Maka Ibnu Umar dengan tindakannya tersebut, ingin membersihkan nama baik Ibnu Zubair dari segala tuduhan Hajjaj itu. Juga Ibnu Umar ingin mengumumkan kepada sekalian kaum Muslimin tentang kebaikan Ibnu Zubair, sebagai lawan dari apa yang diberitakan oleh Hajjaj tentangnya.” ( Syarah Shahih Muslim , Imam An-Nawawi, juz 16 hal. 77 & 78, keterangan terhadap hadits ke 2545 / 229).

Juga dalam riwayat tersebut di atas, kita saksikan betapa keberanian Shahabiyah Asma’ bintu Abi Bakar As-Siddiq radliyallahu `anhuma , yang beliau adalah ibunya Abdullah bin Az-Zubair. Dia menolak panggilan Hajjaj untuk menghadap kepadanya sebagai penguasa yang menang setelah berhasil menghancurkan kekuasaan Ibnu Az-Zubair. Meskipun Hajjaj mengeluarkan ancaman yang keras akan menyeretnya dengan paksa. Dan Hajjaj memang terkenal sebagai pejabat negara yang amat kejam, sehingga amat mungkin menjalankan ancamannya itu. Tetapi Asma’ tidak peduli dengan itu. Belum cukup sampai di situ saja keberanian Asma’, bahkan ketika akhirnya Hajjaj mau datang kerumahnya, beliau menghabisi Hajjaj dengan kata-kata yang tajam. Termasuk menyatakan keyakinannya, bahwa sang pembinasa yang akan muncul dari kabilah Tsaqif sebagaimana yang telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam itu adalah Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi itu sendiri. Dengan pertolongan Allah, Hajjaj tak mampu berbuat apa-apa terhadap keberanian Asma’ itu, kecuali hanya diam dan kemudian pergi meninggalkan rumah Asma’. Pergi untuk tak kembali.

One Response to “Mengingkari Kedhaliman Penguasa Dengan Lisan”

  1. Subhanallah semoga menjadi sumber referensi… Allahu Akbar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s