Menentang Kesalahan / Penyimpangan Penguasa Kaum Muslimin dan Sikap Muslimin Jika Penguasa Adalah Orang Kafir

imagesRasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam telah memperingatkan bahwa di ummat ini akan muncul penguasa yang menyimpang dari Syari’at Allah, dan ummat pun akan terlihat mutu masing-masingnya dalam menyikapi berbagai penyimpangan itu. Camkanlah sabda Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam berikut ini:

“Akan ada penguasa yang engkau ketahui nasabnya akan tetapi engkau ingkari perbuatannya. Maka barang siapa yang menentang kemungkarannya, dia akan selamat. Dan barangsiapa yang menjauhkan diri darinya, maka dia akan selamat juga. Dan barang siapa yang bergaul dekat dengan mereka, maka dia akan binasa.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir , Ibnu Syaibah dalam Mushannaf nya dari Ibnu Abbas radliyallahu `anhuma . Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dalam Shahih nya dari Ummu Salamah radliyallahu `anha (dengan lafadl yang berbeda, pen).

Demikian diterangkan oleh Al-Imam As-Suyuthi dalam Al-Jami’us Shaghir dan juga diterangkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’us Shaghir hadits ke 3661.

Dalam hadits ini telah diterangkan adanya tiga golongan kaum Muslimin dalam menyikapi kemungkaran yang dilakukan oleh penguasa, yaitu:

1). Golongan yang menentang kemungkaran yang ada pada penguasa itu, dan ini adalah golongan yang paling utama dalam keselamatan.

2). Golongan yang berlepas diri dari kemungkaran yang dilakukan penguasa itu dengan cara menjauhkan diri dari penguasa itu, dan golongan ini selamat karena ketika mengetahui kelemahannya, segera dia menjauhkan diri dari penguasa itu.

3). Golongan yang mendekat pada penguasa itu dan larut dalam kemungkarannya, maka golongan ini binasa karenanya.

Adapun menentang kemungkaran penguasa itu dilakukan dengan beberapa cara sebagaimana diterangkan oleh para Ulama’ berikut ini:

1). Bila penguasa itu kafir, maka kaum Muslimin diperintahkan untuk menyingkirkannya atau membunuhnya bila mampu. Bila tidak mampu maka dituntunkan untuk mentaati penguasa itu dalam kebaikan sampai Allah memberikan kesempatan untuk terlepas dari kedhaliman dan kekafiran penguasa tersebut. Atau bila tidak tahan dengan kedhaliman dan kekafiran penguasa itu dan takut keimanannya akan rusak bila terus menerus hidup di bawah penguasa yang demikian, maka dituntunkan untuk hijrah meninggalkan negeri itu ke negeri Muslimin lainnya. Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam bersabda:

Dari Ubadah bin As-Shamit menyatakan: Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam pernah memanggil kami, kemudian kami membaiat (yakni janji mentaati segala perintah) beliau. Dan di antara perkara yang kami baiat beliau adalah kami menyatakan mendengar dan taat kepada penguasa kami dalam keadaan kami menyenanginya atau dalam keadaan kami membencinya, dan dalam keadaan kami lapang maupun dalam keadaan kami kesulitan, dan dalam keadaan kami didhalimi. Kami berjanji pula kepada beliau untuk kami tidak merebut kekuasaan dari penguasa kami. Kemudian beliau menambahkan teks kalimat baiat kami dengan pernyataan beliau: “Kecuali kalau engkau melihat pada penguasamu itu kekafiran yang nyata, dimana engkau mempunyai bukti kekafirannya itu di hadapan Allah (dalam pengadilan-Nya di hari mahsyar, pent).” (HR. Muslim dalam Shahih nya Kitabul Imarah Bab Wujub Tha’atil Umara’ fi Ghairi Ma’shiyah hadits ke 1709 / 42).

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam menuntunkan untuk bersabar dengan kedhaliman penguasa Muslim dan mewasiatkan untuk tidak memberontak terhadapnya dengan tetap mentaatinya dalam perkara yang dibolehkan oleh Syari’ah Islamiyah. Kecuali bila penguasa itu telah menampakkan kekafiran yang nyata dan tidak ada keraguan lagi tentang kekafirannya. Dalam menerangkan makna hadits ini, Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menukil keterangan dari Al-Qadli ‘Iyadl sebagai berikut: “Telah sepakat para Ulama’ bahwasanya kepemimpinan negara Muslimin tidak boleh diberikan kepada orang kafir. Mereka telah sepakat pula bahwa bila kepala negara itu semula Muslim kemudian menjadi kafir, wajib untuk disingkirkan dari kekuasaannya. Demikian pula bila penguasa itu meninggalkan kewajiban menegakkan shalat dan tidak lagi menyeru rakyatnya kepada kewajiban menegakkan shalat tersebut (harus disingkirkan pula dari kekuasaannya, pent).”

Dalil Al-Qadli `Iyadl dalam mengkatagorikan penguasa yang tidak menegakkan shalat dan tidak menyeru rakyatnya kepada kewajiban menegakkan shalat dalam katagori penguasa yang kafir, ialah sabda Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam dalam Shahih Muslim ketika beliau ditanyai oleh para Shahabat beliau dalam menyikapi penguasa yang bermaksiat kepada Allah: “Wahai Rasulallah, apakah boleh kita perangi penguasa itu?” Beliau menjawab: “Tidak boleh, selama para penguasa itu masih menegakkan shalat di kalangan kalian. Tidak boleh selama para penguasa itu masih menegakkan shalat di kalangan kalian.” (HR. Muslim dalam Shahih nya, Kitabul Imarah Bab Khiyarul Aimmah wa Syiraruhum ).

Selanjutnya Al-Qadli `Iyadl menerangkan: “Seandainya penguasa itu semula Muslim kemudian menjadi kafir, dan merubah hukum Syari’ah Islamiyah atau membikin bid’ah (yakni bid’ah yang dalam bentuk merubah hukum Syari’ah, pent), maka penguasa tersebut dianggap keluar dari kedudukannya sebagai pemerintah Muslimin sehingga gugurlah kewajiban ta’at kepadanya, dan wajib atas kaum Muslimin untuk memberontak kepadanya guna mencopot penguasa itu dari kekuasaannya serta mendudukkan penggantinya seorang penguasa yang adil. Yang demikian ini bila kaum Muslimin mampu menjalankannya. Dan bila kaum Muslimin tidak mampu melaksanakannya kecuali hanya sekelompok saja dari mereka, maka kelompok yang mampu itu wajib atasnya untuk mencopot penguasa yang kafir itu dari kekuasaannya. Adapun penguasa yang tergolong ahli bid’ah (yakni mempunyai pemahaman yang sesat tentang Islam, pen), maka tidaklah wajib atas kaum Muslimin untuk menyingkirkannya dari kekuasaan, kecuali bila diperkirakan bahwa kaum Muslimin mampu melakukannya. Bila kaum Muslimin tidak mampu menyingkirkan penguasa yang kafir atau ahli bid’ah tersebut, maka wajib atas kaum Muslimin untuk hijrah meninggalkan negerinya ke negeri lain untuk menyelamatkan imannya dari bahaya kekafiran atau kebid’ahan yang ada pada penguasa itu.”

Demikian Al-Imam An-Nawawi menukilkan keterangan Al-Qadli `Iyadl dalam Syarah Shahih Muslim juz 12 halaman 540 – 541.

Tetapi bila kaum Muslimin masih mampu menjaga imannya dari bahaya kekafiran dan kebid’ahan penguasa tersebut, maka dianjurkan mereka untuk tetap tinggal di negeri yang di bawah kekuasaan pemerintah yang kafir itu, dan menta’atinya dalam kebaikan serta berlepas diri dari kemungkarannya, sambil terus melancarkan da’wah Islamiyah dan memperbanyak kebaikan di kalangan kaum Muslimin, sampai Allah Ta`ala melepaskan kaum Muslimin dari penguasa yang kafir itu dan menggantikannya dengan penguasa yang Muslim dari hamba-hamba Allah yang shalih. Sikap yang demikian ini diambil pengertiannya dari sabda Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam berikut ini:

“Akan ada para penguasa yang tidak berpegang dengan dengan bimbinganku dan tidak berpedoman dengan ajaranku, dan akan tampil penguasa di kalangan kaum Muslimin dari orang-orang yang hatinya hati setan dalam tubuh manusia.” Hudhaifah menceritakan: Aku tanyakan kepada beliau: “Apa yang harus aku lakukan bila aku mendapati keadaan yang demikian itu?” Mendapat pertanyaan demikian beliau pun menjawab: “Kamu hendaknya tetap mendengar perintah penguasa itu dan mentaatinya, walaupun punggungmu dipukul olehnya dan hartamu dirampas, maka tetaplah kamu mendengar dan taat pada penguasa itu (dalam kebaikan, pent).” (HR. Muslim dalam Shahih nya Kitabul Imarah Bab Wujub Mulazamah Jama’atil Muslimin , dari Hudzaifah bin Al-Yaman radliyallahu `anhu ).

Asy-Syaikh Al-Imam Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menerangkan:

“Dan kaidah Syari’ah yang telah disepakati menyatakan: Bahwa tidak boleh menghilangkan kejelekan dengan kejelekan yang lebih besar daripadanya. Akan tetapi yang semestinya ialah menolak kejelekan dengan amalan yang kiranya bisa menghilangkannya atau mempersedikit kejelekan itu. Adapun menghilangkan kejelekan dengan cara menimbulkan kejelekan yang besar daripadanya, maka yang demikian itu dilarang sebagaimana hal ini telah disepakati oleh kaum Muslimin. Maka bila sekelompok kaum Muslimin ingin menyingkirkan penguasa yang telah melakukan kekafiran yang nyata, dan kelompok Muslimin tersebut berkemampuan melakukannya, kemudian mampu pula untuk mengangkat penguasa yang shalih dan yang baik tanpa menimbulkan kerusakan yang besar pada kaum Muslimin, atau tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar dari kejahatan penguasa yang kafir itu, maka tidak mengapa mereka melakukan upaya menyingkirkan penguasa itu. Tetapi bila upaya menyingkirkannya menimbulkan kerusakan yang besar dan hilangnya keamanan, serta menimbulkan kedhaliman pada banyak orang dan pembunuhan orang-orang yang tidak semestinya dibunuh dan berbagai kerusakan besar yang lainnya, maka yang demikian itu tidak boleh dilakukan. Justru yang harus dilakukan adalah bersabar dan tetap mendengar dan taat terhadap penguasa itu dalam perkara yang baik, serta menasehati para pejabatnya dan mendoakan mereka kepada Allah Ta`ala dengan baik dan berupaya untuk mempersedikit kejelekan serta memperbanyak kebaikan. Inilah jalan yang benar yang harus ditempuh oleh kaum Muslimin. Karena dengan cara demikian ini akan terjaga kemaslahatan kaum Muslimin, dan menyedikitkan kejelekan serta memperbanyak kebaikan. Di samping itu juga akan lebih menjaga keamanan dan keselamatan kaum Muslimin dari kejelekan yang banyak. Kita selalu memohon kepada Allah taufiq dan hidayah bagi semua pihak.” ( Muraja’at fi Fiqhil Waki’ As-Siyasiy wal Fikriy ala Dlau’il Kitab was Sunnah , I’dad wa Hiwar Dr. Abdullah bin Muhammad Ar Rifa’ie, Darul Mi’raj Ad-Dauliyyah Lin Nasyr, Riyadl – Saudi Arabia, cet. th. 1414 H / 1994 M, hal. 25 – 26).

2). Bila pemerintah itu di tangan kaum Muslimin, maka prinsip utama dan terutama dalam hal ini adalah mentaatinya dalam perkara yang ma’ruf (yakni perkara yang tidak melanggar Syari’ah Islamiyah) serta berlepas diri daripadanya dalam perkara yang mungkar (yakni perkara yang bertentangan dengan Syari’ah Islamiyah). Juga dilarang memberontak kepadanya dengan adanya berbagai kemungkaran yang dilakukan oleh pemerintah itu. Adapun tuntunan Syari’ah dalam menentang kemungkaran yang ada pada pemerintah itu adalah sebagaimana tuntunan dalam mencegah kemungkaran pada umumnya, yaitu sabda Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam sebagai berikut:

“Siapa dari kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaknya dia merubahnya dengan tangannya. Bila tidak mampu maka hendaknya merubahnya dengan lesannya, dan bila tidak mampu maka hendaknya dia merubahnya dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim dalam Shahih nya dari Abi Said Al-Khudri radliyallahu `anhu , Al-Imam An-Nawawi membawakannya dalam kitab Riyadlus Shalihin bab Al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyi `anil munkar )

Merubah kemungkaran itu artinya adalah mencegahnya untuk jangan terjadi kemungkaran itu atau mencegahnya untuk jangan berlanjut kemungkaran tersebut. Penerapan hadits ini dalam mengingkari kemungkaran yang dilakukan oleh pemerintah Muslimin adalah sebagaimana yang ditunjukkan oleh riwayat Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad nya dengan sanadnya yang shahih dari Thariq bin Syihab yang menceritakan bahwa Marwan bin Hakam ketika sebagai gubernur kota Madinah bagi pemerintahan Bani Umayyah, menerapkan perbuatan bid’ah dalam perkara shalat hari raya dengan mendahulukan khutbah dari pada shalat. Maka berkatalah salah seorang kepada Marwan: “Shalat dulu sebelum khutbah.” Berkatalah Marwan kepada orang itu: “Yang demikian itu (yakni shalat dulu baru khutbah, pen) telah ditinggalkan wahai Aba Fulan.” Maka ketika melihat kejadian teguran orang tersebut terhadap kesalahan Marwan di depan umum (padahal Marwan adalah penguasa), berkatalah Abu Sa’id Al-Khudri radliyallahu `anhu : “Adapun orang ini, sungguh telah menjalankan kewajibannya, karena Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam telah bersabda :

“Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya dia mengingkarinya dengan tangannya. Bila dia tidak mampu, maka hendaknya dia mengingkarinya dengan lisannya. Bila dia tidak mampu, maka hendaknya dia merubahnya dengan hatinya. Dan yang demikian itu (yakni mengingkari dengan hati, pent) adalah selemah-lemah iman.” (HR Ahmad dalam Musnad nya jilid 3 hal. 92).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: